Dunia

Jerman gelar konferensi perdamaian Libya akhir pekan ini

Kantor Kanselir Angela Merkel mengumumkan bahwa pemerintah Libya yang diakui PBB, komandan Khalifa Haftar, dan para pemimpin dari 11 negara diundang ke konferensi itu

Marıa Elısa Hospıta   | 15.01.2020
Jerman gelar konferensi perdamaian Libya akhir pekan ini Kanselir Jerman Angela Merkel. (Foto file-Anadolu Agency)

Berlin

BERLIN 

Jerman mengundang pihak-pihak yang bertikai di Libya dan kekuatan global dan regional ke konferensi perdamaian di Berlin pada Minggu.

Kantor Kanselir Angela Merkel mengumumkan bahwa pemerintah Libya yang diakui PBB, komandan Khalifa Haftar, dan para pemimpin dari 11 negara, termasuk Rusia, Turki, Italia, Mesir, dan Uni Emirat Arab (UEA), diundang ke konferensi itu, yang bertujuan memfasilitasi solusi politik untuk mengakhiri konflik Libya.

Undangan itu dirilis usai perundingan dengan Rusia pada Senin malam.

Namun, di hari yang sama, perundingan untuk kesepakatan gencatan senjata permanen berakhir tanpa kesepakatan karena Haftar meninggalkan Moskow. Dia beralasan ingin berkonsultasi dengan suku-suku asli Libya terlebih dahulu.

Sementara itu, kepala Pemerintah Kesepakatan Nasional Libya (GNA) Fayez al-Sarraj menandatangani kesepakatan gencatan senjata.

Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas berharap agar konferensi perdamaian Berlin akan berkontribusi pada solusi politik untuk konflik Libya.

“Kami ingin membahasnya dengan semua peserta sekali lagi. Kami berharap bisa mencapai kesepakatan selama konferensi ini,” tambah dia.

Pada 12 Januari, pihak-pihak yang bertikai di Libya mengumumkan gencatan senjata sebagai tanggapan atas desakan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Sejak lengser dan wafatnya Muammar Khaddafi pada 2011, dua kursi kekuasaan yang saling bersaing muncul di Libya: satu di Libya timur yang didukung oleh Mesir dan Uni Emirat Arab; dan satu lagi di Tripoli yang diakui PBB dan komunitas internasional.

Sejak April lalu, Haftar melancarkan serangan untuk merebut Tripoli dari GNA.

Menurut PBB, lebih dari 1.000 orang tewas dan 5.000 lainnya terluka sejak operasi itu diluncurkan.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın