Umar Idris
19 November 2020•Update: 19 November 2020
Cindi Cook
PARIS
Prancis meluncurkan jaringan selular generasi kelima atau 5G, jaringan seluler, pada Rabu. Frekuensi pertama diaktivasi bagi pengguna yang telah mendaftar sebelumnya.
Layanan ini masih terbatas pada area yang tersedia 500 antena, sebagai tahap uji coba. Uji coba ini hanya di sembilan kota besar Prancis, menurut harian lokal RFI.
Jaringan 5G disebut-sebut sebagai teknologi terbaru yang akan membantu memerangi perubahan iklim.
Dalam sebuah pernyataan di situs web mereka, CEO operator seluler yang berbasis di Amerika, Verizon, Hans Vestberg mengatakan: "5G memiliki potensi untuk mengurangi hingga 90% dari konsumsi daya kami saat ini," kata dia.
Operator ini mendukung penggunaan jaringan listrik yang lebih efisien, dan menggunakan energi bersih dan terbarukan.
Dalam sebuah pernyataan kepada RFI, CEO Orange, Stephane Richard, mengatakan adopsi jaringan ini untuk pengguna akan berjalan lambat.
"Mereka tidak akan meraih angka besar pada musim dingin ini. Itu topik untuk 2021, terutama di paruh kedua," katanya.
Orange adalah salah satu penyedia telekomunikasi terbesar di Prancis, bersama dengan Bouyges, SFR, dan Free Mobile. Hanya Orange dan Bouyges yang memiliki paket seluler 5G yang tersedia untuk konsumen saat ini, dan secara kolektif membayar € 3 miliar (USD$ 3,56 miliar) untuk membeli frekuensi.
Regulator Prancis menetapkan bahwa pada tahun 2022 setiap operator harus mendirikan 3.000 menara transmisi, berkembang menjadi 8.000 menara pada dua tahun kemudian, dan total 10.000 pada tahun 2025.
Namun teknologi baru ini telah menimbulkan kontroversi mengenai kesehatan seseorang. Jaringan 5G menggunakan gelombang elektromagnetik milimeter, yang dikenal sebagai gelombang frekuensi sangat tinggi, level yang jauh lebih tinggi di sepanjang spektrum elektromagnetik daripada 4G atau 3G.
Banyak artikel telah menyanggah teori bahwa gelombang ini menyebabkan kerusakan pada tubuh manusia, seperti laporan April 2020 di platform online DigitalTrends yang mengutip Administrasi Obat Federal AS (FDA) dan Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA) sebagai "tidak secara resmi mengklasifikasikan RF sebagai penyebab kanker."
DigitalTrends juga melaporkan bahwa pada tahun 2014, WHO menetapkan tidak ada efek kesehatan yang merugikan dalam penggunaan ponsel. WHO mengatakan, mengkategorikan frekuensi 5G, bersama dengan Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC), sebagai "kemungkinan karsinogenik" dengan bukti yang tidak meyakinkan.