Israel terus lancarkan serangan udara ke Gaza meski gencatan senjata berlaku
UNICEF menyebut lebih dari 100 anak tewas di Gaza sejak gencatan senjata dimulai
ANKARA
Israel terus melancarkan serangan artileri dan udara ke berbagai wilayah di Jalur Gaza meskipun perjanjian gencatan senjata telah berlaku sejak 10 Oktober lalu, menurut keterangan sumber-sumber setempat.
Sumber lokal menyebutkan, unit artileri Israel membombardir sejumlah wilayah di timur Kota Khan Younis, Gaza selatan. Pada waktu yang hampir bersamaan, pesawat tempur Israel juga melancarkan serangan udara ke Kota Rafah, termasuk di bagian barat wilayah tersebut.
Serangan artileri juga dilaporkan menghantam sejumlah titik di bagian timur Permukiman Tuffah, Gaza timur. Selain itu, kendaraan militer dan helikopter Israel melepaskan tembakan secara acak ke wilayah tersebut.
Tembakan dari helikopter Israel juga dilaporkan menyasar area timur Kamp Pengungsi Bureij di Jalur Gaza bagian tengah.
Sumber setempat menyatakan Israel terus melanggar gencatan senjata yang telah disepakati.
Dalam salah satu serangan udara Israel di wilayah Tuffah, Gaza timur, tiga warga Palestina dilaporkan tewas. Sementara itu, serangan menggunakan pesawat nirawak di wilayah yang sama menyebabkan tiga orang lainnya mengalami luka-luka.
Sementara itu, Dana Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) menyatakan lebih dari 100 anak telah tewas di Gaza meskipun gencatan senjata telah diberlakukan.
Dalam pernyataan yang dimuat di situs resmi UNICEF, Direktur Regional UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Edouard Beigbeder Chaiban, mengatakan bahwa meskipun gencatan senjata membawa perbaikan dalam kehidupan lebih dari satu juta anak, situasi kemanusiaan di Gaza masih sangat memprihatinkan.
Chaiban menyebutkan bantuan kemanusiaan telah masuk ke Gaza, namun jumlahnya masih jauh dari cukup untuk memenuhi besarnya kebutuhan. Ia mengatakan akses terhadap pangan meningkat di sejumlah wilayah, dan anak-anak yang selama lebih dari dua tahun tidak dapat bermain kini kembali memiliki mainan.
Menurut UNICEF, lebih dari 1,6 juta orang telah memperoleh akses air bersih, sementara sekitar 700.000 orang menerima selimut dan pakaian musim dingin. Layanan perawatan intensif anak di Rumah Sakit Al-Shifa juga telah kembali beroperasi, dan sejumlah anak telah menerima vaksinasi.
Namun, Chaiban menegaskan bahwa sejak gencatan senjata dimulai pada Oktober 2025, lebih dari 100 anak masih terbunuh, sementara sekitar 100.000 anak mengalami kekurangan gizi. Ia juga mencatat sekitar 1,3 juta orang membutuhkan tempat tinggal layak dan masih hidup di tenda atau bangunan yang rusak akibat serangan.
Chaiban mengatakan sejak awal musim dingin, sedikitnya 10 anak meninggal dunia akibat hipotermia. Selain itu, lebih dari 700.000 anak usia sekolah di Gaza belum dapat mengakses pendidikan formal sejak Oktober 2023.
UNICEF menekankan perlunya kelanjutan dan kemajuan gencatan senjata, serta menyebut fase kedua dari proses tersebut sebagai kebutuhan kemanusiaan yang mendesak.
Chaiban juga menyerukan pembukaan lebih banyak jalur bantuan dan logistik, serta penyediaan tempat tinggal sementara yang lebih layak untuk menghadapi kondisi musim dingin.
Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
