Rhany Chairunissa Rufinaldo
04 Desember 2018•Update: 05 Desember 2018
Hale Turkes
ANKARA
Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran membantah desas-desus tentang perjanjian "minyak untuk makanan" dengan Korea Selatan, media lokal melaporkan, Senin.
"Beberapa media membicarakan tentang transaksi minyak untuk makanan Iran-Korea Selatan yang saya bantah," Bahram Ghasemi mengatakan pada konferensi pers di Teheran, menurut saluran berita Departemen Minyak berdasarkan pemberitaan oleh Kantor Berita Republik Islam (IRNA).
"Rumor dan pernyataan yang salah tentang isu-isu seperti kesepakatan minyak untuk makanan dirilis oleh sumber-sumber tertentu dan tidak mempunyai dasar," kata juru bicara itu.
Pada Sabtu, IRNA melaporkan bahwa Iran dan Korea Selatan telah menyetujui mekanisme pembayaran yang sesuai untuk ekspor minyak Iran ke Korea Selatan.
IRNA mengutip Hossein Tanhaee, kepala Kamar Dagang Iran-Korea Selatan yang mengatakan bahwa biaya barang yang akan dipasok ke importir Iran akan dikurangi dari biaya ekspor minyak ke Korea Selatan dan para pengimpor akan membayar harga barang ke pemerintah Iran.
"Jika bank-bank sentral dari kedua negara tidak dapat melakukan transaksi, sektor swasta dapat melakukan barter dalam kerangka dana bersama," kata Tanhaee.
Sementara itu, mengenai berita tentang negara-negara Eropa yang mengoperasikan saluran keuangan, yang disebut Kendaraan Tujuan Khusus (SPV) antara Iran dan Eropa, Ghasemi mengatakan bahwa diskusi antara negara-negara terkait menegaskan bahwa beberapa dari mereka tidak memiliki kemampuan untuk menjadi tuan rumah, sementara yang lain menyatakan kesiapan untuk melakukannya.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Federica Mogherini, mengatakan pada akhir September bahwa SPV, yang dianggap memfasilitasi perdagangan dengan Iran dan melindunginya dari sanksi AS bisa beroperasi sebelum November.
Ghasemi menggambarkan tekanan AS pada negara-negara lain sebagai masalah yang serius dan rumit.
Dia mengatakan niat positif yang ditunjukkan negara-negara Eropa untuk menemukan mekanisme yang tepat bagi Iran untuk melakukan perdagangan terlihat optimis.
"Pandangan kami optimis dan kami berharap ini akan berjalan dengan baik," katanya.
Pada 5 November AS memberlakukan kembali sanksi yang menargetkan sektor energi, pembuatan kapal, pengiriman, dan keuangan Iran.
Sanksi itu juga menargetkan penjualan minyak Iran untuk melukai perekonomian negara dan membawa Tehran kembali ke meja perundingan untuk membahas persenjataan nuklirnya.
Pemerintahan Trump memberikan keringanan kepada delapan negara importir minyak Iran termasuk China, India, Korea Selatan, Turki, Italia, UAE, Jepang dan Taiwan.