Diego Carranza
BOGOTA, Kolombia
Kota terbesar di Amerika Latin akan mulai membagi-bagikan suplemen makanan kontroversial di sekolah-sekolah negeri, kata walikota Sao Paulo pada Kamis.
Farinata, dijuluki "makanan anjing", dibuat dari makanan yang hampir kadaluarsa namun di-daur ulang.
Walikota Joao Doria mencapai kesepakatan dengan sebuah perusahaan pengolah makanan awal bulan ini, dan keputusan itu pun didukung oleh Gereja Katolik.
Doria mengatakan suplemen itu akan melengkapi makanan yang diberikan paada murid-murid sekolah negeri dan akan mulai dibagikan pada akhir bulan ini.
"Menteri Pendidikan juga sudah mengiyakan pembagian suplemen ini yang memiliki nutrisi protein, vitamin dan garam mineral," kata Doria pada pers.
Namun klaim kesehatan itu dibantah oleh ahli nutrisi, juru masak dan beberapa pihak lain.
Dewan Nutrisi Sao Paulo mengatakan suplemen itu "berbahaya bagi proses pencernaan" dan "tidak menghargai prestasi ketahanan pangan yang dicapai dalam beberapa dekade terakhir."
Juru masak terkenal Janaina Rueda menuliskan surat terbuka yang mengkritik kurangnya dialog antara Doria dan warganya. Rueda mengatakan "makanan adalah ritual yang melibatkan persiapan dan pencobaan", dan kedua elemen itu tereliminasi oleh suplemen itu.
Namun di tengah badai kritik, farinata disertifikasi sebagai suplemen oleh ahli pangan dan diproduksi dalam sejumlah bentuk seperti tepung, biji-bijian, biskuit dan makaroni. Ahli nutrisi Francine Lopes mengatakan dalam bentuk tepung, farinata bisa dijadikan produk lain seperti roti.
Pemerintah setempat mengatakan berniat mendistribusi suplemen ini kepada warga-warga miskin di Sao Paulo.
Doria mengatakan langkah itu adalah bagian dari hukum baru mengenani kebijakan penghapusan kelaparan dan meningkatkan fungsi makanan (PMEFSA). "Ini adalah insiatif untuk mengurangi sampah makanan di kota yang memiliki pola konsumsi terbesar di negara ini," jelas Doria.
Data resmi dari Sao Paulo menunjukkan sampah makanan dari festival-festival makanan saja sebanyak 160 ton per hari.
"Di seluruh Brazil, sampah makanan bisa sebanyak 44.000 ton per tahun dan itu belum termasuk jumlah yang tidak dihitung," kata Doria. "Tentu kita ingin warga mengkonsumsi makanan alami, namun kita juga harus mengambil semua pilihan yang ditawarkan."
*Maria Paula Trivino berkontribusi untuk laporan ini