İqbal Musyaffa
10 Oktober 2018•Update: 11 Oktober 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Indonesia mengajak kepada negara Selatan-Selatan untuk meningkatkan kerja sama di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan dan ketidakpastian ekonomi global akibat perang dagang.
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Mardiasmo mengatakan hal tersebut dalam diskusi panel The Growing Importance of South-South Cooperation Amid Trade Tensions and Global Financial Market Volatility dalam rangkaian acara IMF-WBG Annual Meetings 2018 di Bali, Selasa.
"Keadaan ekonomi global saat ini menuntut pentingnya kerja sama Selatan-Selatan, terutama untuk menciptakan respon, serta strategi dalam menangani berbagai situasi yang terjadi," ujar Mardiasmo.
Wakil Menteri juga menjelaskan bahwa perang dagang antara Amerika Serikat dan China memberikan dampak besar pada pasar global.
Keadaan ini merupakan tantangan bagi pemerintahan seluruh dunia untuk menetralisir keadaan dan tetap menjaga kesejahteraan masyarakat termasuk Indonesia.
"Di tengah perang dagang global, pemerintah Indonesia akan bergerak aktif dalam meningkatkan sektor manufaktur, mendukung penuh sektor industri, dan mereformasi perpajakan dalam rangka mendukung sektor manufaktur dan meningkatkan aktivitas ekspor," jelas Mardiasmo.
Adanya peningkatan signifikan terhadap tarif impor, menurut dia, semakin menekan volume perdagangan internasional dan kinerja ekspor.
Selain itu, tingginya ketergantungan terhadap mata uang dolar, akan membebani pembiayaan eksportir.
Dia menegaskan bahwa kondisi ini menunjukkan pentingnya kerja sama Selatan-Selatan, terutama untuk menciptakan respons serta strategi yang potensial untuk mengatasi situasi yang terjadi.
Kerja sama ini sesuai dengan salah satu tujuan dari diselenggarakannya kerja sama Selatan-Selatan yaitu untuk membuka peluang serta penetrasi pasar.
Untuk melakukan penetrasi pasar, Mardiasmo mengatakan Indonesia memiliki Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI/Indonesia Eximbank) untuk mendukung pembiayaan ke negara-negara di kawasan Afrika.