Erbil Basay
11 November 2021•Update: 16 November 2021
BERLIN
Seorang ibu Turki melakukan aksi protes setiap Rabu di depan Kantor Kanselir Federal Jerman untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang perekrutan paksa oleh kelompok teror PKK terhadap remaja dan anak di bawah umur.
Maide T., yang menuntut bantuan dari pemerintah Jerman untuk menyelamatkan putrinya, berusaha menarik perhatian Kanselir Angela Merkel dan Menteri Dalam Negeri Horst Seehofer, yang mendatangi Kanselir setiap Rabu untuk rapat kabinet mingguan.
Dia mendapatkan dukungan dari simpatisan yang turut memegang spanduk bertuliskan: "PKK adalah virus. Bantu saya selamatkan anak saya."
"Saya akan menghadapi pengobatan yang sulit. Sebelum memulai proses ini, saya merasa perlu untuk memprotes untuk terakhir kalinya karena ulang tahun kedua penculikan putri saya," tutur dia.
Sang ibu mengatakan akan terus memprotes setelah perawatannya selesai dan memiliki pesan untuk putrinya.
“Saya benar-benar sakit. Saya tidak tahu apa yang dikatakan orang-orang yang tidak beragama yang membawanya kepada para teroris, bagaimana mereka mencuri pikiranmu (anaknya). Tapi malu jika kamu percaya pada orang-orang yang tidak bermoral itu. Saya sakit. Saya mendapat perlakuan kasar dalam proses ini," kata Maide.
Maide mengatakan putrinya, Nilufer T., menghilang sejak November 2019.
Nilufer T. dipengaruhi oleh propaganda PKK setelah mengunjungi sebuah pusat budaya di Berlin, yang digunakan oleh kelompok teror itu untuk mencuci otak kaum muda dan merekrut mereka.
PKK ditetapkan sebagai organisasi teror “etno-nasionalis” dan “separatis” oleh badan penegak hukum Uni Eropa, Europol, dan telah dilarang di Jerman sejak 1993.
Tapi kelompok itu tetap aktif di negara yang terdapat hampir 14.500 pengikut di antara populasi imigran di sana.
Turki telah lama mengkritik otoritas Jerman karena tidak mengambil tindakan serius terhadap PKK, yang menggunakan negara Eropa itu sebagai platform untuk kegiatan rekrutmen, penggalangan dana, dan propaganda.
Dalam lebih dari 35 tahun kampanye terornya melawan Turki, PKK – yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, AS, dan Uni Eropa – telah bertanggung jawab atas kematian 40.000 orang, termasuk wanita, bayi, dan anak-anak.