19 Agustus 2017•Update: 21 Agustus 2017
Michael Hernandez
WASHINGTON
Kepala Strategi Presiden Donald Trump yang kontroversial meninggalkan posisinya di Gedung Putih menyusul beberapa kejadian baru-baru ini di AS.
Sebelum resmi keluar dari Gedung Putih, Steve Bannon membuat kesepakatan dengan Kepala Kantor Kepresidenan Jenderal John Kelly untuk mengakhiri masa kerjanya, tutur juru bicara kantor kepresidenan pada Jumat.
“Kami berterima kasih atas pengabdiannya dan mendoakan yang terbaik untuknya,” kata Sarah Huckabee melalui pernyataan tertulis.
Bannon, sosok berpengaruh dalam gerakan yang menamai diri mereka “alt-rigth”, telah menjadi sorotan dan pusat kontroversi sejak menjadi pimpinan Breitbart News – portal media milik gerakan tersebut.
Saat melakukan konferensi pers di Trump Tower awal pekan ini, Trump terlihat tak terlalu yakin soal masa depan Bannon – sebuah pertanda yang kemudian menjadi kenyataan dalam pengumuman yang dibuat pada Jumat itu.
Politisi sayap-kanan ini menjadi penjabat senior terbaru yang angkat kaki dari Gedung Putih, setelah Kelly ditunjuk sebagai kepala kantor kepresidenan bulan lalu.
Kelly ditengarai sedang di bawah pemeriksaan oleh personel Gedung Putih, di mana Bannon adalah fokus besar dalam pemeriksaan tersebut.
Selama masa jabatannya di pemerintahan, Bannon banyak memasukkan agenda bernuansa far-right, mendorong Trump untuk keluar dari Paris Climate Agreement, dan menjanjikan penerapan travel ban yang banyak dikritik sebagai peraturan yang menargetkan Muslim.
Saat kampanye, Bannon lah yang memainkan peranan besar untuk memenangkan Trump, dengan cara membantu memobilisasi pendukung beraliran far-right di belakang taipan bisnis ini.
Namun dalam wawancara yang dilakukan Bannon baru-baru ini dengan majalah politik American Prospect, dia memberi pernyataan yang kontradiktif dengan Presiden Trump soal Korea Utara, menyatakan bahwa tidak ada solusi militer terhadap masalah ini. Bannon juga mengklaim memiliki kekuatan yang bisa melampaui diplomat-diplomat di Kementerian Luar Negeri.
Pasca “pemecatannya”, majalah Breitbart mengatakan bahwa “pahlawan populis” ini akan kembali bekerja di jajaran eksekutif mereka.