Chandni Vasandani
17 Agustus 2017•Update: 19 Agustus 2017
Michael Hernandez
WASHINGTON
Rabu, ribuan demonstran di University of Virginia di AS membawa lilin dalam aksi damai menolak kekerasan yang timbul dalam protes di Charlottesville akhir pekan lalu.
Jumat lalu kampus universitas itu dipadati kelompok supremasi kulit putih dan neo-Nazi yang membawa obor, menyerukan slogan-slogan bernuansa SARA dan membawa simbol Nazi serta konfederasi.
Shining Crawford, warga Charlottesville berusia 36 tahun, mengecam demonstrasi itu dan mengatakan dia hadir di kampus pada Rabu karena “ini adalah kota kami yang diserbu kelompok teroris supremasi kulit putih”.
“Kami tidak menerima kebencian di sini,” katanya.
Aksi damai pada Rabu mengikuti rute yang diambil demonstran pekan lalu dalam rangka “merampas kembali wilayah kami”, kata Mike Ludwick, penduduk setempat.
“Pada akhirnya, kami berharap menjadi contoh untuk tempat-tempat lain di AS,” katanya kepada Anadolu Agency.
Protes massal akhir pekan lalu menarik demonstran dari seluruh AS yang berkumpul untuk menentang rencana pencabutan patung tokoh konfederasi dari taman kota Charlottesville.
Namun setelah aksi anarkis itu membunuh seorang perempuan dan melukai 20 orang lainnya dalam serangan mobil, momentum ini digunakan sebagai seruan untuk menurunkan berbagai simbol konfederasi di seluruh penjuru AS, khususnya di wilayah selatan di mana simbol-simbol ini dipajang begitu saja di tempat umum.
Kota Baltimore di negara bagian Maryland telah menurunkan patung-patung tokoh konfederasi dari ruang umum, dengan pencabutan 4 monumen yang dilakukan Rabu dini hari.
Sedangkan kota Birmingham di Alabama membangun struktur kayu untuk melindungi monumen konfederasi di sana, setelah pemerintahan setempat mengesahkan hukum yang memblokir pencabut simbol konfederasi.
Jaksa agung Alabama kemudian menuntut kota tersebut ke ranah hukum.
Di Lexington, Kentucky, wali kota setempat merencanakan pencabutan 2 monumen konfederasi dari tempat yang dulunya menjadi gedung pengadilan.
Simbol konfederasi menjadi sorotan aktivis HAM setelah figur supremasi kulit putih Dylann Roof menembak mati 9 jemaat gereja berkulit hitam di South Carolina pada 2015, dengan tujuan memulai perang antar-ras.
Namun niat buruknya itu tidak tercapai dan pembunuhan massal yang dilakukan Roof menjadi alasan kuat pencabutan simbol konfederasi, yang diduga menjadi dasar ideologi Roof.
Sejak kejadian itu, setidaknya 60 monumen konfederasi telah dicabut atau diganti namanya, kata organisasi Southern Poverty Law Center, yang mengawasi tindakan kebencian.