Michael Gabriel Hernandez
26 Januari 2022•Update: 27 Januari 2022
WASHINGTON
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden "tidak berniat" mengirim pasukan Amerika ke Ukraina di tengah meningkatnya ketegangan dengan Rusia, kata Gedung Putih pada Selasa.
Pernyataan itu muncul satu hari setelah Pentagon mengumumkan sekitar 8.500 tentara Amerika telah disiagakan di AS jika mereka diperlukan untuk dikerahkan ke Eropa dalam Pasukan Respon NATO.
“Kami bekerja melalui NATO untuk menambah dukungan di negara-negara sayap timur kami. Untuk itulah NATO ada, dan kami berkomitmen pada kemurnian aliansi itu," kata juru bicara Gedung Putih Jen Psaki kepada wartawan.
"Untuk memperjelas, tidak ada niat atau minat atau keinginan presiden untuk mengirim pasukan ke Ukraina. NATO adalah forum untuk mendukung negara-negara sayap timur kami, dan itulah yang menjadi fokus kami," tambah Psaki.
Keputusan untuk menempatkan pasukan AS dalam keadaan siaga datang di tengah meningkatnya ketegangan di Eropa timur ketika Barat dan NATO menuduh Rusia mempersiapkan invasi ke Ukraina.
Rusia telah mengumpulkan lebih dari 120.000 tentara di perbatasannya dengan negara bekas republik Soviet di samping pengerahan massal kendaraan lapis baja dan artileri.
Penumpukan serupa telah terlihat di Belarus, tepat di utara Ukraina.
Dalam kedua kasus tersebut, Rusia menyangkal mempersiapkan invasi, dan mempertahankan pasukannya di sana untuk latihan rutin.
NATO mulai meningkatkan kehadirannya di Eropa Timur setelah aneksasi ilegal Rusia di Semenanjung Krimea Ukraina pada 2014.
Pada tahun itu juga Kremlin memulai dukungannya untuk kelompok separatis pro-Rusia di timur Ukraina, sebuah kebijakan yang terus berlanjut selama delapan tahun terakhir.