Dandy Koswaraputra
15 September 2018•Update: 16 September 2018
Enes Kaplan dan Kemal Karadag
BAKU, Azerbaijan
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada hari Sabtu mengatakan solusi untuk masalah Karabakh Atas adalah "sine qua non" untuk memperbaiki hubungan dengan Armenia.
Berbicara di sebuah acara untuk menandai peringatan 100 tahun pembebasan Baku oleh Tentara Islam Kaukasia, Erdogan mengingat pembantaian Khojaly tahun 1992 yang menewaskan ratusan warga negara Azerbaijan.
"Mereka yang tidak dapat menjelaskan apa yang terjadi di Khojaly 26 tahun lalu, pembantaian di Karabakh Atas dan menyatakan para pembunuh sebagai pahlawan, tidak seharusnya menggurui Turki soal pelajaran sejarah apa pun," kata Erdogan, mengacu pada Armenia.
Erdogan menambahkan bahwa "mereka yang menduduki 20 persen tanah Azerbaijan dan mencegah lebih dari 1 juta orang Azerbaijan untuk kembali ke tanah mereka seharusnya tidak mengharapkan Turki membuka perbatasannya".
Pembantaian Khojaly dianggap sebagai salah satu insiden paling berdarah dan paling kontroversial dari perang antara Armenia dan Azerbaijan untuk menguasai wilayah Karabakh Atas yang kini diduduki.
Setelah pembubaran Uni Soviet, pasukan Armenia mengambil alih kota Khojaly di Karabakh pada 26 Februari 1992, setelah menghantam dengan artileri berat dan tank, dibantu oleh resimen infanteri.
Serangan dua jam itu menewaskan 613 warganegara Azerbaijan, termasuk 116 wanita dan 63 anak-anak, dan secara kritis melukai 487 lainnya, menurut sumber di Azerbaijan. Sebanyak 150 dari 1.275 orang Azerbaijan, yang ditangkap orang Armenia selama pembantaian, masih hilang.
Erdogan mengatakan Tentara Islam Kaukasia melindungi integritas teritorial Azerbaijan pada tahun 1918 dan meletakkan dasar bagi kemerdekaan Azerbaijan pada tahun 1991.
"Sejak periode awal kemerdekaan Azerbaijan, Turki mendukung negara saudara dalam segala hal dan kami akan terus melakukannya," katanya.
Presiden Turki juga menyoroti bahwa ada banyak proyek yang akan direalisasikan dalam waktu dekat, termasuk Baku-Ceyhan-Tbilisi Oil Pipeline, Baku-Tbilisi-Erzurum Natural Gas Pipeline dan Trans Anatolian Natural Gas Pipeline (TANAP) projects.
"Turki adalah salah satu negara investor terbesar di Azerbaijan, semoga Azerbaijan akan melakukan hal yang sama di Turki segera," kata Erdogan.
Erdogan mendarat pukul 12.30 siang waktu setempat (0830GMT) di Bandara Heydar Aliyev, di mana dia disambut oleh Wakil Presiden Azerbaijan Yagub Eyyubov, Wakil Menteri Luar Negeri Ramiz Hasanov, utusan Azerbaijan di Ankara Hazar Ibrahim dan utusan Turki di Baku Erkan Ozoral.
Menteri Pertahanan Nasional Hulusi Akar menemani Erdogan dalam kunjungan tersebut.
Erdogan mengadakan pertemuan empat mata dengan Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev di sela-sela kunjungannya.
Kedua presiden juga mengunjungi Alley of Honors untuk memberi penghormatan kepada pemimpin nasional dari negara Azerbaijan modern, Haidar Aliyev, serta Alley of Martyrs di Baku untuk memberi penghormatan kepada tentara Turki yang gugur.
Pada 15 September 1918, Baku dibebaskan oleh Tentara Islam Kaukasia, terdiri dari tentara Azerbaijan dan Turki.