Agnes Szucs
15 Desember 2021•Update: 16 Desember 2021
BRUSSELS
NATO pada Selasa menyampaikan dukungan terhadap upaya diplomatik untuk menormalkan hubungan antara Azerbaijan dan Armenia.
“Kami mendukung normalisasi hubungan antara Azerbaijan dan Armenia yang keduanya merupakan mitra berharga bagi NATO,” kata Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg kepada wartawan setelah pertemuan dengan Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev.
Menggarisbawahi pentingnya keamanan dan stabilitas di Kaukasus Selatan bagi NATO, Stoltenberg mengatakan upaya diplomatik untuk menyelesaikan konflik antara Baku dan Yerevan akan melayani "masa depan yang damai bagi semua pihak."
Dia menghargai upaya Aliyev untuk berpartisipasi dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan yang diselenggarakan oleh Presiden Dewan Eropa Charles Michel pada Rabu.
Stoltenberg juga memuji Azerbaijan dan Armenia karena mampu mengakhiri konflik tahun lalu dengan menyetujui gencatan senjata dan menunjukkan bahwa "dialog sedang berlangsung dan proses normalisasi bergerak ke arah yang benar" karena kedua pemimpin akan mengadakan pertemuan.
Dia menekankan bahwa kedua belah pihak perlu menghindari tindakan yang dapat mengakibatkan munculnya kembali kekerasan dan semua perselisihan harus diselesaikan melalui cara diplomatik.
Hubungan antara bekas republik Soviet di Armenia dan Azerbaijan telah tegang sejak 1991 ketika militer Armenia menduduki Nagorno-Karabakh, juga dikenal sebagai Karabakh Atas, sebuah wilayah yang diakui secara internasional sebagai bagian dari wilayah Azerbaijan, dan tujuh wilayah yang berdekatan lainnya.
Selama konflik 44 hari yang dimulai pada akhir September tahun lalu, Azerbaijan membebaskan beberapa kota, 300 pemukiman, dan desa yang diduduki secara ilegal oleh Armenia selama hampir 30 tahun.