Muhammad Abdullah Azzam
26 November 2019•Update: 27 November 2019
Safvan Allahverdi
WASHINGTON
Delegasi tingkat tinggi Amerika Serikat (AS) diklaim telah bertemu dengan Jenderal Khalifah Haftar untuk membahas perkembangan yang terjadi di Libya.
Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan pernyataan tertulis terkait pertemuan kedua pihak yang berlangsung pada 24 November itu.
Dalam pernyataan itu, disebutkan sejumlah pejabat AS hadir dalam pertemua tersebut. Yakni Deputi Penasihat Keamanan Nasional AS untuk Urusan Timur Tengah dan Afrika Utara, Victoria Coates, Duta Besar AS untuk Libya, Richard Norland, Asisten Deputi Sekretaris Utama untuk Kantor Urusan Internasional di Departemen Energi, Matthew Zais, dan Deputi Direktur Strategi, Partisipasi dan Program USAFRICOM, Brigadir Jenderal Steven Milliano
Pertemuan itu diadakan dalam rangka menemukan solusi politik terhadap konflik, memastikan perdamaian, serta menekankan dukungan penuh AS untuk kedaulatan dan integritas wilayah Libya.
Di sisi lain, kedua pihak membahas kegiatan Rusia di Libya.
"Pihak berwenang juga menyatakan keprihatinan mereka bahwa Rusia telah menyalahgunakan konflik di negara itu serta mengabaikan nyawa rakyat Libya," tutur pernyataan AS tersebut.
Pernyataan otoritas AS itu menekankan bahwa perlunya mendirikan landasan bersama di bawah kepemimpinan otoritas berbasis Tripoli dalam hal-hal yang berkaitan dengan urusan gencatan senjata dan pembagian kekuasaan.
"Amerika Serikat mendesak semua pihak untuk mengambil kesempatan ini untuk membangun masa depan yang aman dan sejahtera di Libya," ujar pernyataan itu.
Pada April tahun ini, pasukan Haftar meluncurkan kampanye militer untuk menguasai Tripoli dari GNA yang diakui secara internasional, tetapi mereka sejauh ini terus menghadapi kegagalan.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), bentrokan telah menewaskan lebih dari 1.000 orang dan melukai sekitar 5.500 lainnya.
Sejak penggulingan pemerintahan Muammar Khaddafi pada 2011, dua poros kekuasaan yang saling bersaing muncul di Libya, satu di Libya Timur yang didukung oleh Mesir dan Uni Emirat Arab, dan satu lagi di Tripoli yang mendapat pengakuan PBB dan internasional.
Dalam upaya merebut ibu kota Tripoli selama tujuh bulan terakhir yang tak kunjung berhasil, baru-baru ini pasukan Haftar menjadi pembicaraan publik karena mendapatkan dukungan dari perusahaan keamanan Rusia Wagner Group.