Maria Elisa Hospita
05 Desember 2017•Update: 06 Desember 2017
KAIRO
Dalam wawancara televisi lewat sambungan telepon pada Minggu malam, mantan perdana menteri Mesir sekaligus kandidat presiden untuk pemilihan umum mendatang, Ahmed Shafiq, membantah laporan yang menyebutkan bahwa dirinya diculik.
Shafiq tampil di hadapan publik untuk pertama kalinya sejak ia kembali ke Mesir pada 2 Desember dari Uni Emirat Arab setelah mengasingkan diri selama lima tahun.
Dalam kesempatan tersebut ia menegaskan kembali rencananya untuk mencalonkan diri dalam pemilu presiden 2018.
Politikus berusia 76 tahun tersebut tiba di ibu kota Mesir pada Sabtu malam, setelah dideportasi dari UEA.
Kuasa hukumnya, Dina Adly, mengumumkan penahanannya lewat laman Facebook resminya: "Pihak otoritas di UEA telah menahan Shafiq di rumahnya untuk mendeportasinya ke Mesir."
Menurut seorang sumber dari Bandar Udara Internasional Kairo, ketika mendarat, hampir 50 anggota keluarga dan pendukungnya menemui Shafiq.
Shafiq - PM Mesir terakhir di era Mubarak - akhir bulan lalu telah mengumumkan bahwa ia akan mencalonkan diri dalam pemilu presiden 2018.
Ia sempat menjabat sebagai perdana menteri di bawah kepemimpinan otokratik Presiden Hosni Mubarak, yang mundur dari jabatannya awal 2011, menyusul aksi demonstrasi selama 18 hari untuk menentang rezimnya.
Dalam pemilu presiden bebas pertama di Mesir pada 2011, Mohamed Morsi, pemimpin kelompok Ikhwanul Muslimin mengumpulkan suara sedikit lebih banyak dari Shafiq. Sejak itu, Shafiq tinggal di UEA.