Muhammad Abdullah Azzam
20 Agustus 2019•Update: 21 Agustus 2019
Safvan Allahverdi
WASHINGTON
Amerika Serikat (AS) mengutuk serangan udara yang menargetkan konvoi militer Turki dan warga sipil di Idlib, Suriah.
Melalui pernyataan tertulis via Twitter, Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Morgan Ortagus merilis pernyataan kecaman terhadap serangan udara yang menyerang warga sipil dan konvoi pos pengamatan Turki yang sedang berpindah tempat dari satu daerah ke daerah lain di Idlib.
"Rezim Assad dan sekutunya harus segera kembali mematuhi kesepakatan gencatan senjata di Idlib,” ujar Ortagus dalam pernyataannya.
Setelah menyerang konvoi pasukan Turki, sebut Ortagus, pasukan rezim juga melancarkan serangan terhadap warga sipil, petugas kemanusiaan dan bangunan umum secara brutal.
Pasukan Assad pada Senin melakukan tiga serangan udara terhadap konvoi pos pengamatan Turki yang sedang berpindah tempat dari satu daerah ke daerah lain di distrik Maarat al-Nu'man, Idlib, Suriah.
Kementerian Pertahanan Turki mengumumkan lewat sebuah pernyataan bahwa serangan udara tersebut menewaskan tiga warga sipil dan melukai 12 lainnya.
Kementerian itu mengutuk keras serangan yang bertentangan dengan perjanjian, kerja sama dan dialog dengan Rusia sebelumnya.
Setelah rezim Assad dan pendukungnya memasuki selatan perbatasan distrik Han Sheikun pada waktu perayaan Idul Adha, sekitar 124.000 warga sipil selatan Idlib mengungsi ke perbatasan Turki, ungkap Direktur Koordinasi Penanganan Suriah, Muhammad Hallaj, kepada Anadolu Agency.
Hallaj mengatakan jika serangan pasukan Assad dan Rusia berlanjut ke distrik Serakib dan Maarratinnuman, maka jumlah pengungsi dapat mencapai satu juta jiwa.
Menyusul pertemuan 17 September di Sochi antara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin, keduanya sepakat membangun zona demiliterisasi - di mana tindakan agresi dilarang secara tegas - di Idlib.
Di bawah kesepakatan itu, kelompok-kelompok oposisi di Idlib diizinkan untuk tetap menempati wilayah, sementara Rusia dan Turki mulai melakukan patroli gabungan di daerah itu untuk mencegah pertempuran kembali meletus.
Sejalan dengan kesepakatan Sochi, kelompok oposisi menarik persenjataan berat mereka dari daerah tertentu di Idlib sejak 10 Oktober.
Suriah baru saja mulai keluar dari konflik dahsyat yang dimulai pada 2011 ketika rezim Assad menindak keras para demonstran dengan keganasan yang tidak terduga.
Sejak itu, puluhan ribu orang tewas dalam konflik sementara jutaan lainnya terpaksa mengungsi.