Pizaro Gozali İdrus
23 Agustus 2018•Update: 23 Agustus 2018
Pizaro Gozali
JAKARTA
Kunjungan Taliban ke Indonesia untuk menemui Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi merupakan sinyal positif bagi perdamaian Afghanistan.
Ahli dalam permasalahan negara-negara Asia, Yon Machmudi, mengatakan kedatangan Taliban merupakan bentuk pengakuan atas peran Indonesia selama ini dalam mewujudkan perdamaian.
“Mulai ada kepercayaan Taliban kepada Indonesia yang sebelumnya dinilai terlalu dekat dengan pemerintah Afghanistan,” kata pengajar Universitas Indonesia (UI) ini saat dihubungi Anadolu Agency di Jakarta, Kamis.
Yon melihat kunjungan ini sebagai bukti Taliban mau bekerja sama dalam penyelesaian konflik di Afghanistan.
“Indonesia diyakini dapat menyelsaikan konflik,” kata peraih gelar Doktor dari Kajian Asia dari Australian National University (ANU) ini.
Yon menilai Indonesia strategis dengan posisi bebas aktif dalam menjembatani hubungan Taliban dan pemerintah Afghanistan.
“Indonesia bisa memainkan fungsi bebasnya yang tidak terikat blok AS dan Rusia,” ujar Yon.
Untuk itulah, lanjut Yon, Taliban merasa perlu berdialog dengan Indonesia agar pasukan AS angkat kaki di Afghanistan.
Namun demikian, Yon menilai upaya membersihkan Afghanistan dari pasukan AS sangat sulit karena sudah lamanya negeri Paman Sam itu bercokol.
Minimal, ungkap Yon, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah mengurangi personil militer AS di Afghanistan.
Menurut Yon, kunci melakukan ini berada di tangan pemerintah Afghanistan yang memiliki kedekatan dengan AS.
“Bisa saja pemerintah Afghanistan mengurangi pengaruh dan kekuatan AS jika itu bagian dari rekonsiliasi,” kata Yon.
Aktor lain yang memiliki peran kuat adalah pemerintah Pakistan. Pakistan, kata Yon, bisa berkontribusi karena kedekatannya dengan AS dan Taliban sekaligus.
“Sebenarnya ada ketidaknyamanan Pakistan dengan AS, sehingga Pakistan menjadikan Taliban untuk mengurangi peran AS,” kata Yon.
'Rusia jangan buat perang baru’
Sementara itu, Rusia akan menggelar pertemuan yang membahas perdamaian Afghanistan di Moskow, bulan depan.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menginformasikan telah mengundang pihak Taliban untuk perundingan pada 4 September mendatang dan mengaku telah mendapat respons positif.
Yon berharap langkah Rusia tidak menjadikan perang baru di Afghanistan. Sebab untuk menciptakan stabilitas di Timur Tengah, keterlibatan negara-negara besar seperti Rusia dan AS harus dikurangi.
“Lambat laun, mereka harus kurangi pengaruh dan mendorong perdamaian,” kata Yon.
Sementara itu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Luar Negeri Muhyiddin Junaedi mengaku tidak mempermasalahkan inisiatif Rusia untuk menyelesaikan konflik Afghanistan.
Muhyiddin mengaku Indonesia tak diundang dalam pertemuan di Rusia.
“Silahkan saja (Rusia) dengan caranya, yang penting semua mencari kesepakatan damai,” kata Muhyiddin.
Muhyiddin mengatakan komunikasi pemerintah Indonesia dengan Taliban berlangsung baik. Dia pun memahami keinginan Taliban agar pasukan AS keluar dari Afghanistan.
“So far so good. Tak ada masalah,” jelas dia.
Delegasi Emirat Islam Afghanistan atau Taliban yang dipimpin kepala Kantor Politik Sher Muhammad Abbas Stanekzai melakukan kunjungan ke Indonesia dari 12-15 Agustus 2018.
Selama kunjungan tersebut, delegasi Taliban menemui Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, dan Representatif Khusus Presiden Indonesia untuk Afghanistan Hamid Awaludin.
“Mereka berdiskusi tentang pencapaian perdamaian di Afghanistan dan penarikan pasukan asing,” kata juru bicara politik Taliban Muhammad Sohail Shaheen dalam sebuah pernyataan pada Jumat.
Selain itu, delegasi Taliban dan pejabat tinggi Indonesia juga bertukar pandang soal hubungan bilateral.