Chandni
14 Februari 2018•Update: 16 Februari 2018
Elena Teslova
MOSKOW
Presiden Palestina Mahmoud Abbas pada Selasa mendesak perlunya dilangsungkan konferensi internasional mengenai status Yerusalem.
Konferensi itu harus mencari mekanisme baru untuk perundingan Israel-Palestina, kata Abbas dalam sebuah jumpa pers di Moskow.
Mekanisme baru itu menurutnya, harus melibatkan Rusia, Amerika Serikat (AS), Uni Eropa dan negara-negara Muslim dalam proses perundingan.
"Kami tidak menolak AS namun kami tidak ingin mereka saja yang menjadi pihak penengah. Kami ingin proses mediasi dari segala sisi menyusul konferensi internasional yang bisa diadakan di Moskow atau Paris," terangnya.
Ulama besar Rusia Rawil Gaynetdin menyampaikan dukungan dari pihak Rusia.
Dia mengatakan rencana AS memindahkan kedutaan mereka dari Tel Aviv ke Yerusalem adalah hal yang "provokatif".
"Yerusalem harus tetap memegang status resminya sebagaimana didikte oleh resolusi PBB dan didukung sebagian besar negara dunia. Yerusalem Timur adalah ibu kota Palestina," kata Gaynetdin.
Desember lalu, Trump mengumumkan keputusannya untuk secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, walaupun menerima tentangan dari seluruh dunia.
Yerusalem tetap menjadi pusat konflik Israel-Palestina, dengan Palestina yang mengharapkan Yerusalem Timur -- saat ini masih diduduki Israel -- menjadi ibu kota negaranya kelak.