Maria Elisa Hospita
14 Februari 2018•Update: 15 Februari 2018
Merve Aydogan
ANKARA
Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat (AS) Daniel Coats menyatakan kekhawatirannya atas operasi militer Turki yang sedang berlangsung di Suriah.
Saat sidang Komite Intelijen Senat mengenai ancaman teror di seluruh dunia, Coats mengatakan bahwa operasi kontraterorisme di Afrin, barat laut Suriah, mengancam keberadaan pasukan AS di wilayah tersebut.
Coats mengatakan, Turki akan menghalangi "ambisi Kurdi" di Timur Tengah, sekaligus mengklaim operasi tersebut "mempersulit" aktivitas melawan Daesh.
Pada 20 Januari, Turki melancarkan Operasi Ranting Zaitun untuk memberantas teroris PYD/PKK dan Daesh dari Afrin.
Menurut Staf Militer Turki, operasi tersebut bertujuan untuk mewujudkan keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan dan seluruh wilayah Turki, sekaligus melindungi penduduk Suriah dari penindasan dan kekejaman teroris.
Operasi Afrin berlangsung di bawah kerangka hak Turki berdasarkan hukum internasional, keputusan Dewan Keamanan PBB, hak untuk membela diri di bawah Piagam PBB, dengan tetap menghormati integritas teritorial Suriah.
Pihak militer juga memastikan bahwa sasaran satu-satunya operasi tersebut adalah teroris, sehingga keselamatan penduduk sipil menjadi prioritas utama.
Afrin merupakan tempat persembunyian utama bagi PYD/PKK sejak 2012, yaitu ketika rezim Assad di Suriah menyerahkan kota tersebut pada kelompok teror tanpa perlawanan.