Rhany Chairunissa Rufinaldo
30 Oktober 2019•Update: 30 Oktober 2019
Muhammed Emin Canik
BUENOS AIRES
Kementerian Kehakiman Chili pada Selasa mengatakan 20 orang tewas dalam aksi protes menentang kenaikan biaya hidup di negara itu.
Menurut kementerian, sebanyak 1.218 orang terluka, termasuk 745 petugas keamanan, sejak dimulainya demonstrasi pada 6 Oktober.
Protes anti-pemerintah, yang dilakukan sebagai tanggapan atas kenaikan tarif transportasi sebesar 4 persen, berubah menjadi kerusuhan pada 19 Oktober.
Selama bentrok, 49 stasiun kereta bawah tanah dihancurkan dan 26 bus dibakar, sementara lebih dari 9.200 orang ditangkap di seluruh penjuru negeri.
Demonstran berencana untuk mengadakan lebih banyak protes massal selama akhir pekan untuk menuntut pengunduran diri Presiden Sebastian Pinera yang mencopot delapan anggota kabinet, termasuk menteri dalam negeri dan menteri keuangan.
Pada 16 Oktober, pengunjuk rasa melompati pintu putar di stasiun metro di ibu kota tanpa membayar tiket sebagai bentuk protes atas kenaikan tarif sebesar empat persen.
Presiden Pinera telah mengumumkan konsesi, termasuk membatalkan kenaikan tarif, kenaikan upah minimum dan menunda kenaikan harga listrik hingga tahun depan dalam upaya untuk mengatasi krisis.
Menurut Badan Statistik Chili, setengah dari jumlah total buruh di negara itu menghasilkan sekitar USD550 (Rp7,7 juta, dengan kurs Rp14.000 per dollar AS) per bulan.