07 Juli 2017•Update: 09 Juli 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Seusai Lebaran, masyarakat yang mudik ke kampung halaman biasanya kembali lagi ke kota-kota besar dengan membawa serta sanak familinya. Dengan harapan, mereka bisa mengikuti cerita kesuksesan di perantauan atau paling tidak bekerja dengan upah yang lebih layak daripada di desa.
Sosiolog Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Jawa Tengah, Arizal Mutakhir, mengatakan tradisi merantau sudah lama berada di tengah masyarakat Indonesia. Latar belakangnya biasanya karena menuntut ilmu, mencari pengalaman, atau mendapatkan penghidupan yang lebih baik.
“Motif tersebut bertahan hingga kini. Sebagian besar perantau memang mencari penghidupan yang lebih layak,” ujarnya kepada Anadolu Agency, Kamis.
Budaya ini membuat jumlah penduduk kota-kota besar bertambah tiap tahun. Jakarta misalnya, saat mudik Lebaran tahun ini, warga yang meninggalkan ibu kota sekitar 6,4 juta orang. Pemerintah memprediksi, akan ada pertambahan penduduk sekitar 70.000 orang seusai Lebaran. Daerah-daerah yang menjadi tujuan para perantau adalah kawasan perindustrian, perdagangan, dan pusat-pusat kegiatan ekonomi lain.
Upah minimum lebih tinggi
Salah satu daya tarik kawasan-kawasan ini adalah upah minimum yang lebih tinggi. Kabupaten Karawang, Jawa Barat misalnya, sebagai salah satu kota pusat industri, mempunyai Upah Minumum Kabupaten (UMK) 2017 sebesar Rp 3.605.000, jauh lebih tinggi dibanding Kabupaten Pangandaran yang hanya memiliki UMK sebesar Rp 1.433.000.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnaker) Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Tommy Harahap mengatakan setiap Lebaran selesai, permintaan kartu pencari kerja atau kartu kuning meningkat. Meski tidak lagi menjadi syarat utama pencari kerja, permintaannya masih tetap tinggi.
Pemkab, menurutnya tidak bisa mencegah keinginan warga untuk merantau ke kota-kota besar. Cara paling ampuh untuk menekan laju urbanisasi ini adalah dengan memperbanyak pembangunan di pedesaan.