Iqbal Musyaffa
08 September 2017•Update: 08 September 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Tembok penjara bukan batasan untuk berkreasi. Bahkan, bisa menjadi jembatan untuk menggapai dunia. Seperti yang dibuktikan oleh warga binaan Rumah Tahanan Klas I Cipinang. Mereka membuktikan meski raga terpenjara, namun hasil kerajinan kulit olahan mereka bisa menembus pasar global.
Para warga binaan yang menolak menyerah dengan keadaan, membentuk sebuah wadah bernama Jeera Foundation yang memproduksi hasil kerajinan kulit seperti dompet dan tas.
Tak main-main, produk yang mereka pasarkan melalui internet dan Instagram di akun @jeerabags mampu meraih omset Rp 25 juta hingga Rp 50 juta perbulan.
“Produk kerajinan kulit kita juga dijajakan di salah satu sudut di terminal 3 ultimate bandara Soekarno Hatta,” jelas pendiri Jeera Foundation, Rino Lande, kepada Anadolu Agency.
Jeera Foundation memang tidak hanya fokus pada produk kulit saja, melainkan juga memiliki kedai kopi, pangkas rambut, desain busana dan pijat refleksi. Rino menjelaskan bahwa produk kerajinan kulit yang diproduksi warga binaan memiliki potensi yang besar.
“Meski potensinya besar, kita masih bermasalah dalam sisi orisinalitas desain. Pelanggan selama ini meminta kita membuat produk sesuai apa yang mereka ingin atau meniru model produk lain,” ungkap Rino.
Oleh karena itu, Jeera Foundation mencoba membuka ruang kerja sama dengan berbagai sekolah desain seluruh dunia. Hasilnya, pada 15 September mendatang Jeera akan menandatangani kerja sama dengan Parson’s School of Design di New York.
“Ini kebanggaan buat kami karena itu salah satu sekolah desain terbaik di dunia. Dan juga kebanggaan bagi mereka karena memberi ruang bagi keadilan sosial untuk warga binaan bisa berkreasi,” ujarnya sumringah.
Bentuk kerja sama tersebut dituangkan dalam penyediaan desain oleh sekolah tersebut untuk diimplementasikan menjadi produk hasil kerajinan kulit yang dikombinasikan dengan kain tenun khas Indonesia. “Produk itu sepenuhnya akan dibuat warga binaan dan akan dijual ke seluruh dunia,” lanjutnya.
Setiap warga binaan yang tergabung dalam Jeera dalam bidang kerajinan kulit ini memproduksi mulai dari pembentukan pola hingga produk akhirnya secara keseluruhan. Sehingga mereka mampu untuk memberi pelatihan ataupun membuka usaha sendiri selepas dari penjara nanti.
Rino menambahkan, kerja sama dengan Parson’s School of Design ini juga dapat memberdayakan warga binaan yang sudah menyelesaikan masa kurungan untuk turut terlibat dalam produksi kerajinan kulit untuk memenuhi permintaan pasar global.
“Dengan begitu, mantan narapidana tidak akan berpikir untuk berbuat kriminal lagi yang bisa kembali mengirim mereka ke penjara,” ucap Rino.
Selain itu, melalui kerja sama tersebut, Jeera juga akan membawa dan mempresentasikan hasil desain busana salah satu warga binaan di rutan Cipinang ke New York.