Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Sekelompok turis tampak menikmati kopi di kedai yang berada di area Kantor Imigrasi Jakarta Barat. Suasananya terbilang nyaman, tawaran menunya pun lumayan menggiurkan.
Seperti kedai kopi pada umumnya, tempat nongkrong bernama Jeera ini memang tidak terlalu berbeda dengan kafe-kafe lainnya yang menawarkan sajian kopi. Meski begitu, ada satu dinding yang bisa dianggap sebagai salah satu ciri yang coba ditunjukkan oleh si pengelola kedai.
Jika kedai kopi kekinian banyak memasang kutipan-kutipan yang berkaitan dengan kopi atau filosofi tentang minuman hitam itu, maka Jeera menghias dinding mereka dengan kata-kata inspiratif.
Be thankful, be useful, be thoughtful dan hope merupakan beberapa kata penggugah pikiran yang tertoreh di salah satu sisi dinding Jeera. Bukan sekadar sebagai pemanis interior, agaknya tulisan-tulisan itu dibuat juga sebagai pengingat hidup untuk para pekerja di kedai ini.
Tidak banyak yang mengetahui bahwa kedai kopi ini dijalankan oleh para narapidana berbagai kasus kriminal. Tamu-tamu yang datang pun sering terkejut ketika mendengar cerita di balik berdirinya kedai Jeera ini.
“Kami tidak mengira kalau ternyata pegawai di sini pernah dipenjara. Pelayanan mereka dan racikannya sudah seperti barista profesional di kafe pada umumnya,” ujar Maria, turis asal Spanyol.
Maria mengaku terkesan ketika mengetahui kafe Jeera ini dibuat sebagai wadah pembinaan para mantan narapidana untuk mulai menata kembali hidup mereka yang sempat hancur.
Sambil menikmati kopi Papua pesanannya, dia mengatakan, dari penampilan para pekerja di Jeera, sangat tidak dapat terlihat kalau mereka adalah bekas penghuni lapas. “Mereka sudah seperti masyarakat biasa. Mungkin di Spanyol perlu mencontoh tempat ini,” lanjutnya tersenyum.
Jeera. Sebagian orang mungkin melafalkannya dengan ‘jira’. Namun sebenarnya nama kedai kopi ini dibuat sebagai penanda sekaligus janji mereka yang bekerja di tempat ini. 'Jera' yang berarti tidak mau atau tidak berani berbuat lagi alias kapok, agaknya diusung sebagai salah satu identitas orang-orang di balik kedai ini.
Seperti Rino Lande, salah satunya. Pria yang pernah mencicip kehidupan penjara selama dua tahun di Rumah Tahanan Cipinang ini, mengaku punya banyak harapan dari kedai kopi ini. Bekerja sebagai peracik kopi setelah bebas dari tahanan, diakui Rino dapat mencegah paran mantan narapidana untuk kembali berbuat kriminal.
“Terutama bagi narapidana kasus narkotik yang mendominasi warga binaan di Cipinang. Ini bisa membuat mereka enggan untuk kembali menjual dan mengedarkan,” katanya saat berbincang dengan Anadolu Agency.
Rino bercerita, bersama dengan warga binaan lain, dia membentuk gerakan pemberdayaan warga binaan bersama otoritas Rutan Cipinang dan organisasi kemasyarakatan bernama Jeera Foundation, pada 23 Juni tahun lalu. “Penjara merenggut kebebasan kami, tapi tidak dengan masa depan kami,” ujar Rino.
Kafe Jeera, kata Rino, menjadi salah satu bentuk dari program rehabilitasi narapidana.
Setiap dua bulan sekali dilakukan pendaftaran dan seleksi bagi warga binaan yang ingin mengikuti kegiatan di Jeera. Mereka dilatih meracik kopi dan juga ketrampilan lainnya.
Hingga kini, sudah ada 270 warga binaan yang dibina Jeera. “Selain ada pelatihan di dalam penjara, para narapidana yang sudah selesai masa tahanannya juga akan kita tempatkan di kafe Jeera di luar penjara,” jelas Rino.
Saat ini baru ada satu kafe Jeera di luar penjara yakni di kantor imigrasi Jakarta Barat. Melalui kerja sama dengan Ditjen Imigrasi dan kementerian hukum dan keamanan, Jeera rencananya bakal membuka kafe di 100 kantor imigrasi dan 30 bandara internasional serta 100 penjara di seluruh Indonesia untuk penempatan para narapidana selepas penjara.
“Kita ingin mengisi ruang kosong pembinaan dan rehabilitasi yang selama ini kurang diperhatikan. Karena fokus rutan dan lapas lebih pada kondisi keamanan di dalam penjara,” lanjutnya.
Program yang dilaksanakan Jeera pun telah mendapat apresiasi PBB melalui UNODC (United Nations Office on Drugs and Crimes) yang sudah berkunjung ke Jeera. Bahkan, Jeera ditawarkan untuk berbagi konsep pengembangan narapidana di dalam dan selepas keluar penjara di Austria dan Swedia tahun depan.
Selain kedai kopi, Jeera juga mengembangkan potensi warga binaan lainnya melalui produk kerajinan kulit, desain pakaian, pangkas rambut, dan juga pijat refleksi. Dengan begitu, semakin banyak pilihan bagi warga binaan untuk mengisi waktu dan mengembangkan kemampuan mereka selama berada di dalam penjara.
Didukung otoritas Rutan
Pengembangan program rehabilitasi bagi warga binaan di Cipinang melalui Jeera terbilang dapat berjalan karena mendapat dukungan dari otoritas Rumah Tahanan. Kepala Rutan Klas I Cipinang, Asep Sutandar, mengatakan pembinaan ini untuk memberikan kesempatan para warga binaan guna memperbaiki kehidupannya.
“Konsentrasi kita pada pelatihan sumber daya manusia, bukan untuk mendirikan industri di Rutan. Sehingga warga binaan memiliki kemampuan dan siap kembali ke masyarakat nantinya,” jelas Asep.
Pembinaan ini, kata dia, melibatkan tiga unsur penting yaitu otoritas Rutan, warga binaan melalui Jeera, dan masyarakat yang diwakili oleh organisasi kepemudaan KNPI. “Dengan sinergi ini, pembinaan diharapkan bisa efektif dan berhasil,” katanya.
Selanjutnya, pihak rumah tahanan juga mencoba mengakomodir apa yang menjadi program Jeera serta menyediakan sumber daya dan fasilitas yang dibutuhkan meskipun terbatas. “Meski di tengah keterbatasan yang ada, tetapi tidak membatasi kreativitas warga binaan. Mereka sangat kreatif dalam banyak hal,” ungkap Asep.