Dunia, Budaya

Indonesia jadi negara fokus Istanbul Publishing Fellowship ke-11 di Turkiye

Istanbul Publishing Fellowship ke-11 akan digelar pada 10–12 Februari 2026 dengan dukungan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Turkiye

Ahmet Esad Şani, Muhammad Abdullah Azzam  | 29.01.2026 - Update : 29.01.2026
Indonesia jadi negara fokus Istanbul Publishing Fellowship ke-11 di Turkiye Konferensi pers sosialisasi ajang Istanbul Publishing Fellowship ke-11 yang akan digelar pada 10–12 Februari 2026. (Muhammed Ali Yiğit - Anadolu)

ISTANBUL

Ajang 11th International Istanbul Publishing Fellowship atau Pertemuan Profesi Penerbitan Internasional Istanbul ke-11 akan digelar pada 10–12 Februari 2026 dan mempertemukan penerbit lokal serta internasional.

Anadolu Agency (AA) ditunjuk sebagai Mitra Komunikasi Global dalam kegiatan tersebut.

Serikat Profesi Percetakan dan Penerbitan Turkiye (TBYM) bersama Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Turkiye mengumumkan akan menggelar acara tersebut dalam konferensi pers di Tasyapı Congress Center, Distrik Sisli, Istanbul.

Ketua TBYM Mehmet Burhan Genc mengatakan Istanbul Publishing Fellowship merupakan pasar konten pertama di Turkiye dan hingga kini belum ada inisiatif serupa di sektor kebudayaan.

Ia menegaskan tujuan utama program tersebut adalah membawa karya berbahasa Turki ke panggung global.

“Target utama kami adalah menerjemahkan karya yang ditulis dalam bahasa Turki ke berbagai bahasa dunia dan menjadikan Istanbul sebagai pusat, pasar, dan poros perdagangan hak cipta,” kata Genc.

Genc menyebutkan sejak 2016 hingga kini telah dilakukan lebih dari 35 ribu pertemuan bisnis dua arah dan lebih dari 25 ribu pra-perjanjian ditandatangani. Untuk penyelenggaraan tahun ini, panitia menerima hampir 1.000 pendaftaran dari 104 negara.

“Setelah proses seleksi, kami akan menjamu total 335 penerbit dari 73 negara, terdiri atas 225 penerbit asing dan 110 penerbit dalam negeri,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa peserta mencakup penerbit-penerbit bergengsi yang diikuti secara global, serta penerbit dari negara-negara dengan industri penerbitan yang sedang berkembang.

Menurutnya, program ini menawarkan aksesibilitas dan kesetaraan yang tidak selalu ditemukan di pameran buku internasional.

Indonesia jadi negara fokus

Ketua Serikat Pers dan Penerbitan Turkiye Halil Celik mengatakan Istanbul Publishing Fellowship merupakan proyek internasional bernilai strategis yang dijalankan dengan semangat kolaborasi kuat.

Melalui program ini, Turkiye menargetkan sektor penerbitannya menjadi aktor global yang diperhitungkan.

Celik menjelaskan bahwa sejak 2021, panitia menerapkan konsep “negara fokus” guna memperkuat hubungan langsung dan berkelanjutan antara penerbit Turkiye dan negara mitra.

Melalui pendekatan ini, struktur pasar, profil pembaca, saluran distribusi, serta regulasi hak cipta negara fokus dapat dianalisis secara mendalam.

Untuk tahun ini, Indonesia ditetapkan sebagai negara fokus. Celik menilai Indonesia memiliki posisi strategis dengan populasi sekitar 280 juta jiwa, pasar penerbitan yang terus berkembang, serta keragaman budaya yang kuat di kawasan Asia Pasifik.

“Indonesia memiliki pasar domestik yang besar dengan satu bahasa resmi, Bahasa Indonesia, serta kekuatan signifikan di bidang penerbitan pendidikan, anak dan remaja, serta keagamaan,” kata Celik.

Ia menambahkan bahwa karya sastra Turki, pemikiran Islam, sejarah Ottoman, dan literatur nilai memiliki potensi kuat diterima di pasar Indonesia.

Ia juga mengungkapkan bahwa sekitar 10 penerbit besar dari Indonesia akan menjadi tamu utama dalam program tahun ini.

Cerita lokal Turkiye mendunia

Anggota Dewan Pengurus Kamar Dagang Istanbul (ITO) Munir Ustun mengatakan pihaknya secara aktif mempromosikan sastra Turkiye melalui berbagai pameran buku internasional. Menurutnya, Istanbul Publishing Fellowship memiliki nilai strategis karena diselenggarakan di Istanbul sebagai tuan rumah.

“Kami percaya bahwa cerita-cerita dari tanah ini harus diceritakan dengan kata-kata dan tulisan kami sendiri,” ujarnya.

Ustun juga menyoroti pengembangan subprogram Media Match yang mempertemukan penerbit dengan produser dan platform digital untuk mengadaptasi karya tulis ke layar, sebagai respons terhadap perubahan konsumsi konten di era digital.

Sementara itu, Anggota Dewan Koordinasi Istanbul Publishing Fellowship Melike Gunyuz menekankan pentingnya peran penerbit dalam membentuk masa depan melalui gagasan dan narasi yang mereka sebarkan.

Ia mengatakan program tersebut bermula sebagai inisiatif kecil satu dekade lalu, namun kini telah menjadi agenda penting penerbit dunia.

Tahun ini, panitia juga memperkenalkan IPF VIP atau International Publishing Forum, yakni sesi tertutup yang mempertemukan penerbit global terkemuka dengan pimpinan penerbitan dari Turkiye.

Istanbul Publishing Fellowship telah dijalankan selama 11 tahun sebagai proyek pasar hak cipta yang mempertemukan penerbit dari berbagai belahan dunia melalui pertemuan bisnis langsung.

Program ini didukung berbagai lembaga, antara lain Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Turkiye, Persatuan Pers dan Penerbitan Turkiye, Kamar Dagang Istanbul, Anadolu Agency, Turkish Airlines, serta sejumlah lembaga terkait lainnya.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.