Berita analisis

Apakah ini akhir bulan madu Amerika dengan MBS?

Apakah kebangkitan senat termotivasi untuk menentang Presiden Trump dan untuk menegur pemerintahan Trump karena hubungannya dengan KAS? Kali ini tekanan pada Arab Saudi adalah nyata

Dandy Koswaraputra   | 27.12.2018
Apakah ini akhir bulan madu Amerika dengan MBS?

Jakarta Raya

Senem Cevik

CALIFORNIA 

Bagi Kerajaan Arab Saudi (KAS), diplomasi publik selalu ditempatkan di bagian terdepan dari kebijakan luar negerinya. Para ulama Wahhabi dan Salafi di KAS selama puluhan tahun menyebarkan penafsiran tentang Islam melalui sebuah kampanye terstruktur ke seluruh negara yang mayoritas penduduknya Muslim.

Kebijakan ‘soft power’ Saudi berkaitan dengan penafsiran tentang Islam dan upaya-upayanya menyebarluaskan ideologi Wahhabi ke seluruh dunia. Kebijakan diplomasi keagamaan tersebut dengan sendirinya mengakibatkan benturan dengan penafsiran-penafsiran tentang Islam lainnya yang datang dari negara-negara yang juga ingin mengekspor interpretasi Islam.

Diplomasi agama Saudi dengan demikian memungkinkan KAS memanfaatkan pengaruhnya di kalangan negara-negara Muslim terutama di Balkan dan kawasan Timur Tengah yang lebih luas. Saudi masih menjadi negara yang memiliki kekuatan ekonomi tertinggi di antara negara-negara Muslim dan menjadi pusat pengaruh di kawasan.

Hubungan persahabatan antara Amerika Serikat (AS) dan KAS merupakan hubungan ekonomi yang sejak lama terjalin yang didasari oleh kebutuhan AS akan minyak dan sebaliknya Saudi membutuhkan senjata dari negara Paman Sam tersebut. Tidak seperti pendahulunya Barack Obama yang agak lepas terhadap hubungan dengan Saudi karena budaya yang tidak demokratis dalam urusan dalam negerinya dan ambisi negara kerajaan itu untuk mengekang Iran, Presiden Donald Trump justru memilih Saudi sebagai negara pertama yang dikunjunginya saat terpilih sebagai kepala negara.

Keputusan Trump tersebut menunjukkan pemerintahannya ingin membalikkan kebijakan era Obama terhadap KAS dan Iran. Hubungan yang erat pemerintahan Trump dengan KAS dan dukungan penuh kepada Putra Mahkota Mohammed bin Salman telah menjadi petunjuk atas kebijakan AS di Timur Tengah. Namun demikian, baik pemerintahan Obama maupun Trump bersikap diam terhadap Saudi yang melakukan kejahatan perang di Yaman seraya penjualan senjata ke kerajaan tersebut meningkat tajam pada masa pemerintahan Obama, dan malah Trump bertindak lebih jauh lagi dengan mencopot batas kuota penjualan senjata untuk perang di Yaman.

Sepanjang beberapa dekade hubungan antara Saudi dan AS, kerajaan telah mengeluarkan jutaan dolar untuk kampanye kehumasan dan lobi-lobi. Salah satu momen yang paling bermasalah dalam hubungan kedua negara adalah saat setelah serangan teror 9/11 di mana 15 orang Saudi terlibat dalam insiden tersebut.

Segera setelah insiden teror tersebut terungkap, KAS melakukan kampanye untuk memperbaiki citranya. Kerajaan menyewa perusahaan humas yang berbasis di AS, Burson-Marsteller, yang merupakan perusahaan yang sangat kuat di balik kampanye pencitraan Blackwater dan Ceausescu, satu di antara proyek pencitraan bagi pihak yang memiliki reputasi buruk.

Burson-Marsteller memasang iklan cetak di beberapa surat kabar Amerika dan menjadwalkan penampilan TV untuk Pangeran Bandar bin Sultan bin Abdulaziz. KAS juga kemudian menyewa Qorvis, perusahaan kehumasan lain yang berada di Washington, untuk melakukan polling dan lobi-lobi. Kampanye pencitraan Saudi pertama kali terjadi pada 2002 dengan mana Saudi Peace Initiative, yang kemudian berubah menjadi Arab Peace Initiative.

Kampanye tersebut bertujuan menawarkan rencana perdamaian bagi konflik Timur Tengah antara Israel dan negara-negara Arab. Sebelum pengumuman resmi, Saudi Peace Initiative mendapatkan pemberitaan global yang luas. Tebar pesona Saudi sebagai upaya membingkai kembali kesan kerajaan itu sebagai sponsor terorisme melalui radio dan televisi.

Kampanye Saudi, sebagian besar, tidak cocok dengan publik Amerika karena perbedaan antara nilai-nilai yang diwakili KAS dan yang dianut oleh orang Amerika.

Tentu saja, Arab Saudi masih mengalami kesulitan dari citra buruk kerajaan tersebut karena reputasinya dalam memperlakukan perempuan, sikap agresif terhadap Iran dan represif terhadap warganya sendiri. Meski sudah melakukan banyak upaya pencitraan, Saudi belum dapat meraih kesan yang positif dari publik Amerika.

Naiknya Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman ke panggung politik, namun demikian, telah mengubah arah publisitas Saudi. Putra Mahkota Mohammed bin Salman, atau biasa di kenal sebagai MBS, adalah penguasa de facto KAS dan telah melakukan tur ofensif di Barat, berusaha mengubah citra Arab Saudi sebagai suara moderat terkemuka di dunia Islam.

Arab Saudi, dengan kepemimpinan putra mahkota, mencoba mengubah persepsi negara itu dan menciptakan citra dari seorang pemimpin muda selaras dengan tren global. Propaganda Saudi membingkai MBS sebagai seorang yang menginisiasi perubahan sosial. Dia meluncurkan kampanye untuk memodernisasi Arab Saudi dengan mencabut larangan menonton bioskop yang sudah terjadi sejak 35 tahun, memberikan hak kepada perempuan untuk mengemudi, dan membatasi kekuasaan polisi syariah.

Perubahan ini disertai dengan kebijakan Arab Saudi yang membuka diri untuk pariwisata dan turis, dan merangkul seni sebagai strategi diplomasi publiknya. MBS mendirikan Misk Art Institute in 2017 guna mendorong produksi artistik akar rumput di Arab Saudi, melestarikan apresiasi seni Saudi dan Arab, dan memungkinkan diplomasi dan pertukaran budaya internasional.

Misk Art Institute meluncurkan program-program internasionalnya di Dubai, Kennedy Center di Washington D.C., Paris’s Institut du Monde Arabe serta Los Angeles and New York Museum of Modern Art di Los Angeles dan New York Museum of Modern Art. Misk Art Institute mendukung dua artis Saudi untuk mengorganisir keikutsertaan Arab Saudi untuk pertama kalinya dalam Venice Biennale of Architecture pada musim panas 2018.

Selain seni dan budaya, Mohammed bin Salman meluncurkan rencana untuk mengurangi ketergantungan minyak KAS dengan membangun kota yang futuristik. Pada saat yang sama, dia mempromosikan toleransi dan dialog agama melalui Liga Muslim Dunia. Kolumnis New York Times Thomas Friedman menjuluki kebijakan ofensif Saudi "Musim Semi Saudi".

Selama perjalanan dua setengah minggu ke AS, jurnalis dan pakar kebijakan Amerika memuji putra mahkota dan upayanya untuk memodernisasi Arab Saudi. Mohammed bin Salman membujuk para eksekutif Silicon Valley, Wall Street, dan Hollywood. Dia bertemu dengan selebritas, seperti Oprah, Dwayne "The Rock" Johnson, Clintons, dan Obama. CBS bahkan menayangkan wawancara eksklusif dengan sang putra mahkota.

Buklet promosi yang memuji upaya modernisasi Saudi dicetak dan didistribusikan di daerah pedesaan Amerika. Media AS terpikat pada kebijakan Saudi yang memesona selama sekitar satu tahun sampai dia mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa, pada kenyataannya, dia bukan pembaru.

Pertama, dia pernah menahan puluhan pangeran dan tokoh masyarakat di sebuah hotel mewah tahun lalu, menuntut mereka melakukan korupsi. Dia menahan Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri dan memaksanya untuk mengundurkan diri, dan terus menahan para pembangkang dan membasmi aktivis perempuan.

Mohammed bin Salman terlibat pertikaian diplomatik dengan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengenai catatan hak asasi manusia Saudi dan akhirnya merusak hubungan diplomatik Saudi dengan Kanada. Bahkan kemudian, AS tetap diam dan Arab Saudi terus menerima dukungan tak tergoyahkan dari sebagian besar pembuat kebijakan AS.

Terlepas dari semua dukungan AS sebelumnya, pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi melanggar semua norma diplomatik dan mengungkap realitas Saudi. Hasil investigasi CIA menyimpulkan bahwa Mohammed bin Salman memerintahkan pembunuhan Khashoggi. Lagi pula, reformasi Mohammed bin Salman tidak lebih dari ganti pakaian. Untuk pertama kalinya, Senat AS memilih untuk mengakhiri dukungan AS untuk perang di Yaman dan opini publik Arab Saudi tetap tidak menguntungkan.

Apakah kebangkitan senat termotivasi untuk menentang Presiden Trump dan untuk menegur pemerintahan Trump karena hubungannya dengan KAS? Kali ini tekanan pada Arab Saudi adalah nyata.


[Senem Cevik adalah dosen Studi Internasional di University of California, Irvine. Dia adalah co-editor Diplomasi Publik Turki (Palgrave Macmillan, 2015)]

* Pendapat yang dikemukakan dalam artikel ini adalah opini penulis dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Anadolu Agency.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın