Ekonomi, Berita analisis, Nasional

Secercah harapan di tengah ketidakpastian 2019

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, beberapa waktu lalu, mengaku CAD pada triwulan IV kemungkinan akan melampaui 3 persen dari PDB

İqbal Musyaffa   | 27.12.2018
Secercah harapan di tengah ketidakpastian 2019 Pejalan kaki melintasi Gedung Bank Indonesia di Jakarta, Indonesia pada Selasa 3 Juli 2018. (Eko Siswono Toyudho - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

Iqbal Musyaffa

JAKARTA

Tahun 2018 yang penuh ketidakpastian dalam perekonomian global segera berganti.

Ekonomi Indonesia pada tahun ini sedang mengalami hambatan yang cukup berat.

Hambatan pertama terlihat dari kinerja perdagangan yang sangat lemah dengan pertumbuhan impor jauh melampaui kinerja ekspor.

Sepanjang Januari hingga November, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan defisit hingga USD7,52 miliar berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik.

Kondisi ini sangat berbeda dengan tahun 2017. Pada periode yang sama tahun 2017, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar USD12,02 miliar.

Lemahnya kinerja perdagangan pada 2018 menurut Bank Indonesia karena kondisi ekonomi global yang tidak kondusif akibat perang dagang AS vs China.

Defisit neraca perdagangan membuat defisit transaksi berjalan (CAD) Indonesia pada 2018, menurut perkiraan Bank Indonesia, akan semakin melebar.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, beberapa waktu lalu, mengaku CAD pada triwulan IV kemungkinan akan melampaui 3 persen dari PDB.

Bahkan pada 20 Desember, Perry menyebut defisit transaksi berjalan pada triwulan III mencapai USD8,8 miliar atau 3,37 persen dari PDB.

“Defisit tersebut melampaui triwulan II yang sebesar USD8 miliar atau 3,02 persen,” ungkap Perry.

Buruknya kinerja perdagangan dan CAD juga turut andil membuat nilai tukar rupiah terus bergejolak.

Nilai tukar rupiah bahkan sempat mencapai lebih dari Rp15 ribu per dolar AS pada Oktober lalu meskipun kini sudah berangsur membaik dan stabil di kisaran Rp14.500 per dolar AS.

Berdasarkan beberapa kondisi perekonomian yang terjadi, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2018 diperkirakan beberapa pihak berada pada kisaran 5,2 persen sepanjang tahun.

Pada triwulan III ekonomi Indonesia tumbuh 5,17 persen, lebih rendah dari triwulan II yang tumbuh 5,27 persen.

Optimisme jelang 2019

Perry menyebut tekanan terhadap rupiah akan semakin terkendali pada 2019 sehingga rupiah akan relatif lebih stabil.

“Rupiah pada November 2018 menguat sebesar 6,29 persen secara point to point dibandingkan level bulan sebelumnya,” ungkap Perry baru-baru ini.

Penguatan ini, menurut Perry, dipengaruhi aliran masuk modal asing yang cukup besar akibat dampak positif perekonomian domestik yang tetap kondusif dan eskalasi ketegangan hubungan dagang AS-Tiongkok yang sempat mereda.

Aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik pada November 2018 secara total tercatat sekitar USD7,9 miliar dolar yang terjadi pada semua jenis aset, termasuk ke pasar saham dan penerbitan obligasi global korporasi

Akan tetapi, pada Desember 2018 BI menyebut rupiah kembali mendapat tekanan yang dipengaruhi kembali meningkatnya ketidakpastian global serta meningkatnya permintaan valuta asing musiman untuk kebutuhan akhir tahun.

Meskipun dunia masih diwarnai ketidakpastian, namun BI masih memiliki optimisme nilai tukar rupiah menguat dan stabil pada 2019 karena tekanan terhadap rupiah tidak seberat 2018.

Bahkan, pada September lalu Perry juga menegaskan keyakinannya bahwa defisit transaksi berjalan pada 2019 akan membaik menjadi 2,5 persen dari PDB.

Landasan optimisme tersebut adalah harapan suksesnya program B20 yang dapat menekan impor hingga USD2,2 miliar pada 2018 dan USD6 miliar pada tahun 2019.

CAD pada tahun depan menurut dia, juga dapat ditekan dengan kemungkinan adanya tambahan ekspor CPO sehingga dapat menekan CAD hingga USD10 miliar dan tambahan devisa pariwisata hingga USD3 miliar.

Perbaikan CAD menurut Perry, juga berasal dari kebijakan pengendalian impor barang konsumsi oleh pemerintah dan penundaan proyek-proyek yang belum memasuki tahun financial closing.

Sementara itu, untuk tahun 2019 pemerintah dan DPR sudah menyepakati asumsi dasar perekonomian yakni pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen, inflasi 3,5 persen, dan nilai tukar rupiah Rp15.000.

Ketidakpastian masih menghantui

Berbeda dengan BI, pengamat justru melihat tahun 2019 tidak akan jauh berbeda dengan 2018 karena ketidakpastian global masih menghantui.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan kepada Anadolu Agency, Kamis, bahwa optimisme yang disuarakan Bank Indonesia dan pemerintah dalam APBN 2019 merupakan hal yang wajar.

“Tapi realitasnya, tantangan pada 2019 makin berat,” ungkap Bhima.

Bhima memperkirakan rupiah pada 2019 justru akan kembali terjerembap ke kisaran Rp15 ribu per dolar AS akibat dari gejolak politik internal di AS.

Akibatnya, banyak investor yang bermain aman dengan menarik uang dari saham dan obligasi untuk dipindahkan menjadi investasi emas dan Yen.

“Emas dan Yen dianggap sebagai aset aman sehingga muncul fenomena Flight to Quality atau pemindahan investasi ke aset yang lebih aman dan berkualitas,” urai Bhima.

Fundamental ekonomi Indonesia berdasarkan analisa dia, juga belum bagus. Bhima juga meragukan optimisme BI yang menyebut CAD akan membaik jadi 2,5 persen dari PDB.

“CAD tahun depan masih di kisaran 3 persen karena impor migas masih besar dan kinerja ekspor belum bisa diandalkan,” lanjut dia.

Efek perang dagang, menurut Bhima, masih akan berlanjut pada tahun depan dan berimbas pada Indonesia dengan rendahnya permintaan dan turunnya harga komoditas ekspor andalan Indonesia seperti sawit dan karet.

“Kalau ekspor lebih landai dari impor, maka permintaan valas akan naik. Ditambah lagi faktor Pemilu banyak investor hati-hati masuk ke pasar negara berkembang dan akibatnya suplai valas masuk tidak besar,” tutur Bhima.

Pertumbuhan ekonomi pada 2019, menurut Bhima, hanya 5 persen karena daya beli masyarakat masih bergerak stagnan.

Satu-satunya yang bisa diandalkan adalah belanja pemerintah sebagai motor pertumbuhan karena adanya belanja politik persiapan pemilu.

“Tapi porsi belanja pemerintah hanya 9 persen dari PDB, tidak signifikan dibandingkan konsumsi rumah tangga yang mencapai 56 persen dari PDB,” tambah dia.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah juga mengamini penilaian Bhima.

Dia juga memprediksi rupiah akan kembali menembus Rp15 ribu pada semester awal 2019.

“Ketidakpastian global masih mengancam karena belum ada kesepakatan dalam perang dagang,” jelas Piter.

Perang dagang, menurut dia, masih jadi momok yang membuat pertumbuhan ekonomi lebih rendah karena pelambatan ekspor pada negara berkembang.

Dengan begitu, kata Piter, maka kondisi tahun depan akan mirip dengan 2018.

“Dengan ekspor dan permintaan global lebih rendah, sulit mengharapkan neraca perdagangan dan CAD, termasuk juga neraca pembayaran akan membaik,” tambah dia.

Piter memperkirakan buruknya neraca perdagangan yang masih akan berlangsung pada tahun depan, akan memperburuk kondisi CAD.

Neraca perdagangan akan membantu CAD, apabila bisa mencatatkan surplus.

“Defisit perdagangan yang memperburuk CAD menjadi modal dasar yang tidak menggembirakan jelang 2019,” ungkap Piter.

Pemilu turut pengaruhi ekonomi

Piter menambahkan penyelenggaraan pemilu pada semester awal tahun 2019 akan turut mempengaruhi perekonomian nasional karena sulit mengharapkan aliran modal masuk untuk menutup CAD.

“Ditambah lagi the Fed masih akan dua kali menaikkan suku bunga pada tahun depan dan ketidakpastian global masih tinggi. Nilai tukar kita masih akan melemah,” tambah dia.

Para investor akan cenderung wait and see dalam menanamkan investasinya di Indonesia sambil menunggu hasil dari Pemilu.

Piter berharap pada semester II kondisi aliran modal asing yang masuk akan membaik asalkan Pemilu bisa berjalan damai siapa pun pemenangnya.

Berdasarkan kondisi tersebut, Piter memperkirakan ekonomi Indonesia pada tahun depan akan tumbuh sama dengan tahun ini di kisaran 5,2 persen dan akan sulit untuk bisa mencapai asumsi pertumbuhan dalam APBN 2019 yang sebesar 5,3 persen.

Sementara itu, berbeda dengan Piter, Bhima memperkirakan aliran modal asing yang masuk akan melandai sepanjang 2019 karena pelaku pasar menantikan siapa saja yang akan mengisi pos kementerian sektor ekonomi pada November tahun depan.

“Jadi bukan siapa presidennya. Pasar menantikan siapa menterinya dan arah kebijakan ekonominya. Sepanjang tahun mereka akan wait and see,” jelas Bhima.

Bhima mengatakan pemerintah masih sulit untuk bisa mengandalkan aliran modal asing yang masuk baik melalui investasi asing langsung (FDI) ataupun portofolio pada 2019.

“Aliran modal asing baru akan membaik pada 2020,” Bhima memperkirakan.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın