Ayhan Simsek
BERLIN
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memperingatkan Jerman Rabu bahwa pihaknya melakukan “bunuh diri politik” dengan berulang kali menghalangi rencana pertemuan dirinya dengan para imigran di Jerman.
Dalam sebuah interview dengan majalah mingguan Jerman Die Zeit, Erdogan menegaskan bahwa Turki ingin memperkuat hubungan dengan negara itu tetapi merasa frustrasi dengan sikap otoritas Jerman terhadap Turki.
“Kami akan berangkat menuju Hamburg untuk menghadiri KTT G20 dan mempertimbangkan untuk bertemu warga negara kami di sana. Tetapi otoritas Jerman mengirimkan pesan kepada masing-masing dari mereka bahwa Erdongan dilarang berbicara kepada mereka,” kata Erdogan.
“Ini sangat buruk. Saya tidak pernah melihat hal seperti ini. Jerman sedang melakukan bunuh diri politik,” kata dia. Erdogan mendesak Jerman untuk “mengoreksi kesalahannya”.
Perwakilan dari tiga juta komunitas Turki di Jerman rencananya akan menjadi tuan rumah bagi Erdogan untuk berbicara pada acara publik di sela KTT G20 pada 7-8 Juli di Hamburg.
Di tengah kritik dari partai oposisi Jerman yang menentang kemunculan Erdogan di muka publik, pemerintahab Kanselir Angela Markel sendiri mengesampingkan inisiatif pertemuan Erdogan dengan para imigran tersebut hingga pemilu September.
Menteri Luar Negeri Jerman Sigmar Gabriel mengatakan pekan lalu bahwa pertemuan semacam itu tidak tepat diselenggarakan saat ini terkait ketegangan yang terjadi baru-baru ini antara Berlin dan Ankara.
Pemerintah Jerman juga melakukan langkah kontroversial yang menghambat pertemuan antara politikus Turki dengan warganya di Jerman.
Erdogan, yang sangat kritis terhadap kebijakan Jerman, secara tajam mengecam dan mendesak otoritas Jerman yang telah melarang beberapa pertemuan tersebut.
“Ketika kita ingin menyapa warga negara kami melalui video conference, mahkamah konstitusi Jerman melarang. Tapi pemimpin teroris PKK [Partai Pekerja Kurdistan] dengan mudah melakukan komunikasi via video conference dari pegunungan Qandil [di bagian utara Irak] tanpa ada hambatan. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?” kata dia.
Erdogan sebelumnya menghadiri rangkaian unjuk rasa di Jerman dan meminta warga Turki untuk menyatu dengan masyarakat Jerman tetapi juga jangan melupakan identitas diri, bahasa dan agama.
Kecamannya atas meningkatnya rasisme dan islamophobia di Jerman dan pidatonya tentang bahaya “asimilasi”, seringkali menyulut kritik dari politisi Jerman.
Dalam interview dengan Die Zeit, presiden Turki kembali menyuarakan kritiknya kepada Jerman, dan mengatakan bahwa otoritas Jerman masih mentoleransi kegiatan-kegiatan PKK di Jerman meskipun kelompok tersebut ditetapkan sebagai teroris oleh pemerintah Turki.
Dia mengatakan Berlin tidak menanggapi permintaan Ankara terhadap 4.500 data yang menunjukkan PKK sebagai teroris dan Jerman juga selalu menolak permintaan ekstradisi dari Turki bagi anggota-anggota PKK yang di sana.
“Mereka harus mengembalika para terroris tersebut ke Turki. Jıka Jerman tak mau mengembalikan para tersangka tersebut, dengan demikian negara ıtu bisa disebut sebagai negara yang melindungin para teroris. Anda harus tahu ini,” kata dia.
Menteri Luar Negeri Gabriel mengakui pekan lalu bahwa Jerman gagal dalam memerangi aktivitas PKK, tetapi menegaskan bahwa Turki mesti mengirimkan fakta-fakta hukum yang mendukung atas permintaannya memunglangkan para tersangka teroris tersebut.
Ditanya mengenai keputusan Turki menahan Deniz Yucel, wartawan majalah itu yang berkantor di Istanbul, yang ditangkap 14 Februari lalu, Erdogan menegaskan bahwa pihaknya menangkap koresponden mingguan berita tersebut karena dicurigai menyebarkan propaganda terror untuk PKK dan melakukan propokasi kebencian.
“Saat kasus seperti ini terjadi di Jerman, maka para pejabat setempat mengatakan bahwa proses hukum di sana independen. Sama halnya pada kami, lembaga hukum kami juga independen. Yucel akan dibebaskan jika terbukti tidak bersalah dalam proses hukum,” kata Erdogan.
“Tapi jika dia bersalah makan pengadilan akan menghukumnya,” kata dia.
Proses penahanan Yucel mejadi pemicu ketegangan antara Berlin dan Ankara. Yucel membantah segala tuduhan.
Erdogan juga mengecam Jerman atas keengganannya untuk mengambil langkah-langkah terhadap Fetullah Terrorist Organization (FETO) yang diyakini mengorganisir upaya kudeta yang gagal di Turki tahun lalu.
Dia mengatakan Jerman mesti mengektradisi anggota-anggota FETO yang dicurigai terlibat upaya kudeta militer guna menghadapi pengadilan di Turki.
“Saya telah meminta Nyonya Markel untuk mengektradisi mereka, tapi dia menjawab sayang sekali orang-orang itu telah dikabulkan statusnya sebagai pencari suaka,” kata dia.
Dipimpin oleh pemuka agama Fetullah Gulen yang berbasis di AS, FETO memiliki jaringan yang luas di Jerman. Sejak kudeta gagal tersebut, hamper 4.000 anggota FETO menjadi tersangka dan melarikan diri ke Jerman, kata media lokal Turki.
Lebih dari 420 warga Turki yang ditenggarai memiliki afiliasi dengan FETO – yang memegang passport diplomatik – juga telah meminta suaka di Jerman; beberapa telah mendapatkan persetujuan untuk menetap di Jerman.
Pemerintah Jerman mengatakan keputusan ekstradisi dan suaka merupakan keputusan yang diambil pengadilan secara independen, dan tidak ada motif atau pengaruh politik di belakannya.
Pemerintah Jerman mengawası anggota-anggota FETO dengan hati-hati tetapi tidak dilarang di negara itu, dan menegaskan bahwa sebuah gerakan dapat dilarang setelah melalui proses pembuktian bahwa organisasi tersebut bertentangan dengan hukum dan konstitusi Jerman.
FETO sangat berhati-hati untuk tidak memunculkan kritik dari publik di Jerman, dan memokuskan diri pada dialog antar keyakinan serta mengirimkan pesan-pesan moderat untuk meraih simpati media, mendapat pengaruh di kalangan gereja dan institusi politik.
news_share_descriptionsubscription_contact
