ANKARA
Vaksin yang dibuat di dalam Turki, Turkovac, mengurangi risiko tertular Covid-19 sebesar 49,29 persen jika dibandingkan dengan CoronaVac dari China, menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Universitas Hacettepe yang terkenal di negara itu.
Pada Rabu, Profesor Serhat Unal, anggota Komite Ilmiah Covid-19 dari Kementerian Kesehatan, dan Profesor Mine Durusu Tanriover, peneliti utama uji coba fase-3 untuk Turkovac, mengadakan konferensi pers bersama di ibu kota Ankara untuk mengumumkan hasil penelitian mereka.
Unal mengatakan hasil sementara termasuk sampel yang dikumpulkan hingga 27 Desember 2021.
Dia mengatakan, relawan pertama menerima suntikan pada 22 Juni, dan sejak itu datanya dibagikan secara teratur ke Kementerian Kesehatan.
Tanriover mengatakan sebanyak 1.182 sukarelawan yang tidak terpapar Covid-19 dipilih antara usia 18 dan 55 tahun.
Mereka tidak terinfeksi Covid-19 dan juga tidak menerima vaksin, imbuh dia.
Dia juga membagikan hasil penelitian yang dilakukan pada pencegahan kasus gejala Covid-19 pada 1.008 relawan.
Dari jumlah relawan tersebut, 68 orang terdiagnosis Covid-19. Di antara orang yang terinfeksi, 45 orang telah menerima CoronaVac, sementara 23 menerima Turkovac.
Angka-angka ini menunjukkan risiko tertular virus pada kelompok CoronaVac adalah 8,96 persen, tetapi risiko itu hanya 4,55 persen pada kelompok Turkovac.
Oleh karena itu, kata Tanriover, Turkovac setidaknya seaman CoronaVac, dan mengurangi risiko tertular virus sebesar 49,29%.
Dia menekankan kedua vaksin itu sangat efektif dalam mencegah timbulnya gejala penyakit yang parah akibat Covid-19.
Hanya satu sukarelawan yang mendapatkan suntikan CoronaVac lalu mengalami efek samping stadium tinggi, sedangkan mereka yang diberi Turkovac tidak memiliki keluhan seperti itu, lanjut dia.
Efek samping ringan yang paling umum adalah rasa sakit di sekitar area tangan yang disuntik, tukas dia.