Muhammad Nazarudın Latıef
12 Februari 2020•Update: 12 Februari 2020
JAKARTA
Seluruh investasi dan produksi batu bara di Indonesia masih berjalan seperti biasa dan belum terdampak wabah virus korona atau yang diberi nama oleh WHO sebagai Covid-19, selama dua bulan belakangan, ujar Direktur Jenderal Minyak dan Batubara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Bambang Gatot Ariyono.
"Korona kalau dari sisi batu bara mungkin belum (berdampak), ini kan baru sebentar. Mungkin kalau kami lihat alasannya sebagai energi, bukan komoditas industri," jelas Bambang dalam siaran persnya, Rabu.
China merupakan pasar terbesar produk batu bara Indonesia. Pada 2018, nilai ekspor produk ini mencapai USD7 miliar dengan volume sekitar 125 juta ton atau sekitar 26 persen dari total ekspor batu bara. Saat itu, produksi batu bara mencapai 548,58 juta ton.
Batu bara asal Indonesia selama ini masih dijadikan sebagai kebutuhan energi pembangkit, bukan barang industri.
Menurut Bambang kemungkinan sentimen negatif pada komoditas ini bisa terjadi jika wabah Covid-19 berlangsung dalam waktu lama.
"Kalau sudah enam bulan baru kelihatan. Saya enggak tahu selesai kapan. Kita lihat nanti," tegasnya.
Menurut dia pemerintah belum menerima laporan khusus atas terganggunya kegiatan perdagangan Indonesia - China di sektor mineral dan batubara akibat penyebaran Covid-19.
Harga batubara naik
Harga batu bara sendiri pada Februari naik ke angka USD66,89 per ton, naik tipis dibanding Januari yang berada pada level USD65,93 per ton atau naik 1,45 persen.
Ini disebabkan karena merosotnya pasokan dari China.
Faktor lain yang menjadi dominan atas pembentuk HBA adalah bencana kebakaran yang sempat melanda Australia serta meningkatnya permintaan batubara di sejumlah negara seperti Jepang dan Korea Selatan selama musim dingin.
Sementara India dan China membatasi impor dan memanfaatkan produksi dalam negerinya sendiri.