Muhammad Abdullah Azzam
07 November 2019•Update: 07 November 2019
Can Erozden
ANKARA
Turki pada Kamis mengecam badan pengatur sepak bola Eropa UEFA terkait perlakuan diskriminatif mereka terhadap tim sepak bola nasional Turki dan klub-klub Turki.
Dalam konferensi pers di ibu kota Ankara, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan UEFA harus mengetahui kebijakan penyelidikan mereka terhadap tim Turki adalah langkah yang salah.
"Ketika ada urusan yang berkaitan dengan Turki dan olahragawan kami, maka sikap [UEFA] berubah," ujar Erdogan menyindir badan sepak bola Eropa itu agar tidak membuat olahraga dipolitisasi.
Erdogan mengatakan bahwa tindakan UEFA yang menargetkan rasa solidaritas olahragawan Turki terhadap tentara Turki merupakan "suatu pelanggaran hukum yang jelas" karena menggambarkan tindakan itu sebagai "perilaku politik yang provokatif".
Erdogan menambahkan bahwa para atlet Turki yang mewakili negara mereka di luar negeri menghadapi "kampanye hitam yang sistematis" sejak dimulainya operasi anti-teror Turki di perbatasan Suriah.
“Sikap Atlet kami berdiri memberikan hormat kepada tentara setelah meraih keberhasilan tertentu adalah hak mereka yang paling alami,” tegas Edogan.
Erdogan mengeritik sikap UEFA yang tidak menjalankan sanksi apa pun ketika atlet Prancis memberikan salam ala militer kepada Presiden Macron.
Para atlet Turki di setiap cabang olahraga, terutama sepak bola, melakukan salam hormat kepada tentara Turki yang tengah memerangi teroris dalam Operasi Mata Air Perdamaian di Suriah utara.
Operasi Mata Air Perdamaian yang diluncurkan Turki pada 9 Oktober bertujuan mengamankan perbatasan Turki dengan menghilangkan unsur-unsur teroris guna memastikan kembalinya pengungsi Suriah dengan aman dan integritas wilayah Suriah.