ANKARA
Pada pemberhentian pertama dari kunjungan kerja ke tiga negara di Afrika, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Senin menekankan “peluang kerja sama yang besar” antara Turki dan Angola di bidang pertahanan dan energi.
Berbicara pada konferensi pers bersama Presiden Angola Joao Lourenco di ibu kota Luanda, Erdogan mengatakan Angola sebelumnya memesan kendaraan udara tanpa awak buatan Turki dan pertemuan pada Senin juga membahas pembelian kapal induk lapis baja.
“Dalam 19 tahun terakhir, Turki telah mengambil banyak langkah di bidang industri pertahanan, yang juga menarik perhatian Angola,” kata Erdogan, seraya menambahkan bahwa menteri pertahanan kedua negara akan mengadakan pembicaraan lebih lanjut mengenai hal itu.
Di sektor energi, ada peluang lebih besar untuk kerja sama dan kolaborasi, kata presiden Turki itu, dan para menteri energi Turki dan Angola membahas potensi tersebut kemarin.
Erdogan mengingat penemuan gas alam utama Turki di Laut Hitam tahun ini, dan mengatakan, “Kami akan dengan senang hati memberikan kesempatan yang sama untuk saudara Angola kami.”
Forum Bisnis Turki-Afrika ke-3 akan diadakan di Turki pada 21-22 Oktober, dan Istanbul akan menjadi tuan rumah KTT Kerja Sama Turki-Afrika pada 17-18 Desember.
Presiden Turki mengatakan kedua pertemuan itu akan mengantarkan “era baru” antara hubungan Turki dan Afrika.
Erdogan juga mengatakan Turki dan Angola dapat meningkatkan kerja sama di sektor pariwisata, pendidikan dan perdagangan juga.
Turkish Airlines telah meluncurkan penerbangan langsung dari Istanbul ke Luanda pada 13 Oktober, kata presiden negara itu.
Tujuannya adalah untuk mencapai volume perdagangan bilateral senilai USD500 juta, ujar Erdogan.
“Turki cukup transparan dalam pendekatannya terhadap negara-negara Afrika. Kami memiliki 43 kedutaan besar di benua itu, dan kami mengembangkan hubungan kami dengan semua negara Afrika atas dasar saling menghormati, solidaritas, dan saling menguntungkan,” tutur dia.
“Kami memperdalam kerja sama kami dengan Uni Afrika, di mana kami adalah mitra strategis, dengan cara yang akan berkontribusi pada pertumbuhan perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran di seluruh benua,” kata Erdogan.
'Dunia yang lebih adil dapat ditegakkan’
Menanggapi pertanyaan mengenai buku terbarunya yang berjudul A Fairer World Is Possible, Erdogan mengatakan bahwa benua Afrika telah dijajah selama bertahun-tahun dan sumber daya alamnya telah dieksploitasi oleh Barat.
“Ini jelas indikasi ketidakadilan. Salah satu contoh mencolok dari hal ini adalah Prancis. Prancis menggunakan benua Afrika sebagai benua untuk kolonisasi. Ratusan ribu orang telah dibunuh di Rwanda, Aljazair dan sebagainya,” tekan dia.
“Dan saya menjelaskan semua fakta itu di buku saya, karena kami meminta dunia yang lebih adil, dan kami harus bekerja bahu membahu untuk dunia yang lebih adil,” pungkas dia.
news_share_descriptionsubscription_contact
