Lonjakan AI guncang sektor perangkat lunak, pasar global bergejolak
Peluncuran produk AI otonom memicu penurunan tajam saham perangkat lunak global, dengan sekitar 300 miliar dolar AS nilai pasar menguap dalam satu hari
BERLIN
Kemajuan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI) mengguncang pasar global dan memicu kekhawatiran terhadap masa depan perusahaan di sektor perangkat lunak berbasis layanan (software-as-a-service/SaaS), seiring investor bereaksi terhadap gelombang produk otonom baru.
Kecemasan pasar terhadap apa yang disebut sebagian analis sebagai “SaaS-pocalypse” meningkat bulan ini setelah serangkaian peluncuran produk oleh perusahaan AS, Anthropic, yang berkontribusi pada penurunan tajam saham sektor perangkat lunak.
iShares Expanded Tech-Software Sector ETF (IGV), yang melacak perusahaan perangkat lunak AS, turun sekitar 30 persen pada Februari. Pada satu sesi perdagangan 4 Februari, sekitar 300 miliar dolar AS nilai pasar saham perangkat lunak menguap dalam satu hari.
Anthropic meluncurkan sejumlah alat baru, termasuk sistem AI untuk peninjauan kontrak serta fitur tambahan yang menyasar sektor keuangan dan layanan pelanggan. Perusahaan juga memperkenalkan add-on Claude Cowork yang dirancang untuk beroperasi secara otonom dalam sistem perusahaan, serta meluncurkan Claude Code Security yang dapat memindai basis kode dan menambal kerentanan.
Pengumuman tersebut beriringan dengan penurunan tajam saham perangkat lunak dan keamanan siber. Saham Atlassian anjlok 35 persen dan Intuit turun 34 persen dalam satu sesi. CrowdStrike, Cloudflare, dan Okta masing-masing turun antara 8 hingga 9 persen dalam satu hari perdagangan. IBM mencatat penurunan harian terbesar sejak 2000 setelah meluncurkan alat modernisasi kode lama, dengan penurunan 13 persen dalam sehari dan 27 persen sepanjang bulan.
OpenAI juga meluncurkan versi baru alat pengembangan perangkat lunaknya, Codex, di tengah meningkatnya persaingan antarperusahaan AI. Analis Morgan Stanley menyebut langkah Anthropic sebagai tanda meningkatnya rivalitas di sektor tersebut.
Investor kini mempertanyakan apakah perusahaan akan terus membeli perangkat lunak eksternal jika alat AI memungkinkan mereka membangun dan mengotomatisasi fungsi secara internal. Kekhawatiran ini membebani penyedia perangkat lunak mapan, termasuk Salesforce.
Meta menyatakan bahwa alat AI meningkatkan produktivitas per insinyur sebesar 30 persen per tahun dan hingga 80 persen bagi pengguna tingkat lanjut, memperkuat ekspektasi bahwa otomatisasi dapat mengubah model bisnis tradisional.
Analis menilai AI berkembang dari sekadar alat peningkat produktivitas menjadi potensi pengganti beberapa model SaaS. Perusahaan diperkirakan semakin mengandalkan agen AI otonom alih-alih membeli lisensi aplikasi perangkat lunak tertentu.
Ekspansi cepat AI, yang dipimpin perusahaan seperti OpenAI, Google, dan Microsoft, memicu apa yang disebut sebagian analis sebagai munculnya “ekonomi agen AI.”
CEO Microsoft Satya Nadella memperingatkan dalam Forum Ekonomi Dunia ke-56 di Davos bahwa sektor AI berisiko menjadi gelembung spekulatif jika manfaatnya hanya terkonsentrasi pada perusahaan teknologi besar. Ia mendorong adopsi yang lebih luas di berbagai industri untuk membuka potensi peningkatan produktivitas.
Para ekonom menilai volatilitas pasar belakangan ini mungkin mencerminkan aksi jual panik akibat pengumuman produk yang beruntun. Masih belum jelas apakah AI akan menjadi sekadar alat tambahan atau benar-benar mengubah pasar tenaga kerja global secara mendasar.
Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
