Repertoar

Mengubah citra mistis ayam cemani jadi hewan komersial

“Di luar negeri cemani dijuluki Lamborghini Chicken, masak kita cuma untuk santet saja?”

Surya Fachrizal Aprianus   | 04.08.2021
Mengubah citra mistis ayam cemani jadi hewan komersial Tarmudi, pemilik Kandang Cemani Cileungsi, Jawa Barat, sedang menggendong ayam cemani jantan pada 3 Agustus 2021. ( Surya Fachrizal Aprianus - Anadolu Agency )

Jakarta Raya

BOGOR

Hitam dan gelap adalah sifat yang melekat pada ayam cemani, atau ayam kedu, satu ras lokal yang berkembang di pulau Jawa sejak abad ke-12.

Ayam cemani memiliki gen dominan yang menyebabkan hiperpigmentasi, yang membuat ayam-ayam ini kebanyakan berwarna hitam, termasuk bulu, mata, paruh, jengger, kaki, kuku-kuku dan organ dalam.

“Daging, jeroan (organ dalam) seperti usus dan ampela juga hitam. Bahkan tulangnya juga hitam,” kata Tarmudi, pemilik Kandang Cemani Cileungsi, Jawa Barat, kepada Anadolu Agency.

Karena warna yang serba hitam itulah, kata Tarmudi, ayam Cemani terkesan mistis. Tak heran para dukun kerap memakai ayam Cemani dalam berbagai ritual, seperti persembahan untuk jin agar mendapat keberuntungan, hingga untuk mencari barang hilang.

Ayam cemani juga termasuk ayam langka karena sebagian masyarakat memandang pemelihara ayam jenis itu turut memfasilitasi praktik perdukunan.

“Sebab itu banyak yang berpikir negatif terhadap kita,” kata Tarmudi.

Untuk mengubah citra negatif itu, Tarmudi berusaha mendekati segmen kalangan muda dengan menjelaskan potensi ekonomi dari beternak ayam cemani.

“Di luar negeri cemani dijuluki Lamborghini Chicken, masak kita cuma untuk santet saja?” kata dia.

Menurut Tarmudi, harga sepasang ayam cemani usia dewasa sekitar 8 bulan hingga 1 tahun sekitar Rp7 hingga 8 juta.

“Di luar negeri bisa 20 juta sepasang,” kata dia.

Media internasional seperti The Guardian menyebut ayam cemani sebagai ayam termahal di dunia yang harganya bisa mencapai USD5.000 per pasang.

Tarmudi menjelaskan warna yang serba hitam memang faktor utama ayam cemani menjadi ayam termahal di dunia.

Tetapi faktor lain seperti tingginya faktor mortalitas anak-anak cemani juga menjadikan ayam ini terbilang sulit diproduksi massal.

Ayam cemani bertelur sekitar 80 butir per tahun, sedangkan ayam kampung biasa bisa mencapai lebih dari 100 butir.

Jumlah yang sangat jauh jika dibandingkan dengan ayam petelur konsumsi komersial yang bertelur hingga 300 butir per tahun.

Selain itu, anak ayam Cemani menetas tanpa memiliki bulu. Suhu yang terlalu dingin atau terlalu panas bisa membuat mereka cacat dan mati.

Dari Desa Kedu

Ayam cemani berasal dari Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, kata Tarmudi.

Dia menambahkan dari warna lidah, ada yang berwarna hitam ada juga yang berwarna abu abu.

Dari segi bulu, kata dia, ada empat jenis ayam Cemani. Cemani bulu biasa adalah jenis jalur murni tanpa persilangan dengan ayam jenis lain.

Sedangkan tiga jenis lainnya seperti bulu walik (terbalik atau kriting), bulu rajek wesi (lidi), dan bulu trondol (botak) adalah hasil persilangan dengan ayam-ayam kampung jenis lain.

Jual ke Afrika, Amerika dan Eropa

Tarmudi mengaku setiap bulan bisa menjual 30 ekor anak cemani berusia 2 hingga 3 bulan.

“Kita jual per pasang dengan harga satu juta rupiah untuk yang lidah hitam, dan 400 ribu rupiah untuk yang lidah abu-abu,” kata dia.

Tetapi untuk ayam cemani usia indukan antara 7 bulan hingga 1 tahun dihargai antara Rp6 hingga Rp7 juta rupiah.

“Bahkan saya pernah menjual seharga 15 juta rupiah per pasang,” kata Tarmudi.

Untuk pemasaran, Tarmudi mengandalkan media sosial semisal Facebook, Instagram, dan YouTube.

Tarmudi telah menjual ayam dan telur tetas Cemani ke berbagai daerah di Indonesia bahkan ke luar negeri.

Bersama komunitasnya, Tarmudi yang menjabat Ketua Perkumpulan Peternak Cemani Indonesia (Pertemani) ini telah menjual telur-telur tetas Cemani ke Afrika, Eropa, dan Amerika.

“Kita pernah mengirim telur-telur tetas Cemani ke Gabon, Turki, Amerika, Italia, Thailand paling banyak, Filipina, Malaysia, dan Kamboja. Dengan harga 35 - 40 USD per butir,” kata Turmudi menuturkan.

Sebenarnya pengiriman jarak jauh membuat persentase menetas telur-telur itu menjadi rendah, kata Tarmudi.

Hal itu akibat lamanya perjalanan dan guncangan selama perjalanan. Tetapi para pemesan telah memahami resiko itu, tambah dia.

“Ada yang pesan 16 butir yang menetas cuma tiga. Tapi bagi mereka, ada satu saja yang menetas, mereka merasa punya harapan,” jalas dia.

Karena tingginya minat kolektor luar negeri akan ayam cemani ini, Tarmudi dan teman-teman berharap pemerintah memudahkan mereka mengekspor ke luar negeri. ​​​​​​​

“Kita terhambat di perizinan dan peraturan,” ujar Tarmudi.





Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın