Singapura sita 8,8 ton gading gajah, terbanyak sepanjang sejarah
Singapura kerap menjadi wilayah transit penyelundupan satwa terancam punah
Jakarta Raya
Hayati Nupus
JAKARTA
Singapura menyita 8,8 ton gading gajah, jumlah terbesar sepanjang sejarah, ujar pernyataan bersama National Parks Board (NParks), Singapore Customs and Immigration & Checkpoints Authority (ICA).
Pemerintah memperkirakan seluruh gading gajah dari tiga kontainer itu berasal dari 300 ekor gajah Afrika (Loxodonta africana).
Jumlah ini jauh lebih banyak ketimbang April lalu ketika Singapura menyita 177 kg gading gajah.
“Singapura menjadi wilayah transit penyelundupan satwa terancam punah, agen-agen kami akan terus bekerja dan melawan perdagangan satwa liar ilegal,” ujar mereka, lansir The Straits Times.
Pada saat yang sama, Singapura juga menyita 11,9 ton trenggiling dalam perjalanan dari Republik Demokratik Kongo ke Vietnam.
Dokumen perjalanan menyebutkan dokumen itu membawa kayu, namun nyatanya ada sisik trenggiling senile USD48,6 juta, selain juga gading gajah senilai USD17,6 juta.
April lalu Singapura menyita dua pengiriman trenggiling dari Nigeria menuju Vietnam sebanyak 12,9 dan 12,7 ton—jumlah terbesar di dunia, mengalahkan hasil tangkapan China sebesar 11,9 ton pada 2017.
Mereka memperkirakan perlu mengorbankan 2.000 ekor trenggiling raksasa (Smutsia gigantea) untuk memenuhi pengiriman yang terakhir itu.
Trenggiling berasal dari Asia dan Afrika. Memiliki sisik untuk mempertahankan diri dari pemangsa, mamalia ini paling sering diperdagangkan di dunia.
Sisik trenggiling terbuat dari keratin dan diburu pasar Asia karena dianggap bermanfaat sebagai pengobatan tradisional. Beberapa budaya juga mengonsumsi daging trenggiling.
Ada delapan jenis spesies trenggiling, dan Internasional Union for Conservation of Nature (IUCN) mencatat seluruhnya sebagai satwa terancam punah.
Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
