Hayati Nupus
22 September 2020•Update: 22 September 2020
JAKARTA
Perusahaan di Singapura mengatakan meski ada keuntungan jangka panjang merekrut warga lokal, tapi mendatangkan pekerja asing tetap diperlukan untuk mengatasi kesenjangan keterampilan.
“Kita tidak boleh merusak apa yang telah membuat kita sukses, dengan menutup diri dari dunia,” ujar Wakil Perdana Menteri Heng Swee Keat, kutip Channel News Asia.
Warga Singapura meminta perluasan pekerjaan, seiring memburuknya kondisi pasar tenaga kerja karena pandemi.
Tingkat pengangguran di negara itu naik menjadi 4,3 persen di antara warga negara 4,1 persen di antara penduduk dan 3 persen secara keseluruhan pada Juli.
Sedang jumlah pengangguran pada paruh pertama tahun ini mencapai 11.350, lebih tinggi ketimbang sebelumnya yang hanya 10.120.
Permintaan warga itu beroleh sambutan, pemerintah tengah meninjau kebijakan izin kerja dan meningkatkan upaya untuk menekan praktik perekrutan yang tidak adil.
Ekonom sekaligus professor Universitas Ilmu Sosial Singapura Walter Theseira berpendapat tidak mungkin hanya mempekerjakan orang asing dalam jangka pendek hingga transisi ke “ekonomi seluruh-Singapura.”
Singapura masih membutuhkan pekerja konstruksi dan asisten rumah tangga asing, kecuali jika warga setempat ingin mengalihkan sumber daya tenaga kerja ke bidang-bidang ini.
“Pertanyaannya, bagaimana menerima orang asing sambil melindungi kepentingan Singapura, terutama ketika orang Singapura bersaing dengan asing untuk mendapatkan pekerjaan. Saya kira tidak ada jawaban sederhana untuk ini,” ujar Theseira.
Untuk sejumlah pekerjaan yang tak membutuhkan keterampilan tinggi, lebih mudah untuk memprioritaskan orang Singapura tanpa merugikan bisnis.
Namun untuk bidang dengan keterampilan terbatas dan risiko tinggi, bisnis akan merugi jika memprioritaskan sekelompok kecil orang Singapura, imbuh dia.