Regional

Perdamaian di wilayah Bangsamoro Filipina

Muslim, Kristen, minoritas lain di Bangsamoro menjadi komunitas teladan, kata perwakilan kelompok kemanusiaan Turki

Rhany Chairunissa Rufinaldo   | 30.03.2020
Perdamaian di wilayah Bangsamoro Filipina Perwakilan dari Yayasan Bantuan Kemanusiaan (IHH) Omer Kesmen. (Foto file - Anadolu Agency)

Ankara

Mehmet Ozturk

BANGSAMORO, Filipina

Setelah perjuangan panjang untuk kebebasan di Wilayah Otonomi Bangsamoro Filipina, umat Islam, Kristen dan minoritas lainnya menunjukkan kepada dunia bagaimana orang dapat hidup damai meskipun mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan.

Muslim Bangsamoro, yang lama dirampas kebebasannya di bawah pendudukan Spanyol, Amerika Serikat, Jepang dan negara Filipina modern, diberikan otonomi setelah referendum bersejarah pada 21 Januari dan 6 Februari di Mindanao selatan.

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Anadolu Agency, Omer Kesmen, perwakilan dari Yayasan Bantuan Kemanusiaan (IHH) yang berbasis di Istanbul, mengatakan semua kelompok etnis dan agama di wilayah tersebut belajar hidup berdampingan setelah referendum.

Kesmen yang bertugas di Bangsamoro menghubungkan hal ini dengan pemahaman tentang perang dan sensitivitas yang ditunjukkan oleh Hashim Salamat, mendiang pemimpin Front Pembebasan Islam Moro (MILF), selama konflik.

"Selama konflik antara MILF dan pemerintah Filipina, Hashim Salamat selalu memperingatkan pejuangnya untuk tidak melukai warga sipil," ujar dia.

Kesmen mengatakan bahwa saat ini, jika semua kelompok di wilayah ini hidup bersama dalam damai, semua adalah berkat pendekatan sensitif Salamat terhadap warga sipil.

Hubungan pemerintah dan minoritas

Ketika ditanya tentang hubungan antara pemerintah Daerah Otonomi Bangsamoro di Muslim Mindanao (BARMM) dan minoritas, dia mengatakan semua pihak puas hidup dengan satu sama lain.

"Haji Murad Ebrahim, Kepala Menteri Pemerintahan Otonomi Bangsamoro (BAG), dan umat Islam mengenal psikologi minoritas dengan sangat baik, karena, mereka telah hidup di bawah kekuasaan pemerintah Filipina sebagai minoritas selama bertahun-tahun," kata Kesmen.

Dia mengatakan bahwa setelah referendum, Ebrahim meyakinkan minoritas bahwa hak-hak mereka akan dihormati dan dia telah menepati janjinya.

Kesmen juga menyebut minoritas melakukan yang terbaik untuk meringankan pekerjaan pemerintah daerah.

"Orang-orang mendukung pemerintah. Semua kelompok di wilayah itu mulai menyelesaikan permusuhan dan masalah di antara mereka secara damai. Mereka melakukan ini untuk mendukung pemerintah yang mengakhiri kekacauan dan perang dengan membawa perdamaian karena mereka tidak lagi ingin kembali ke masa-masa sulit," tutur dia.

Kehidupan sosial

Tentang perubahan sosial setelah referendum, Kesmen mengatakan bahwa masyarakat akhirnya bisa menjalani kehidupan sosial yang normal.

"Karena konflik, masyarakat menjadi terlalu stres. Mereka bahkan kekurangan kebutuhan dasar mereka. Tetapi sekarang, mereka dapat keluar dengan aman dan mereka dapat melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Berkat kedamaian, kebanyakan orang mulai cenderung melakukan perdagangan dan menempuh pendidikan," ungkap dia.

Pentingnya wilayah tersebut

Mengenai sumber pendapatan, Kesmen mengatakan daerah itu sangat kaya akan sumber daya alam.

"Menurut perjanjian [dengan pemerintah pusat], pemerintah daerah akan menerima 5 persen dari anggaran pemerintah pusat tahun depan dan angka ini akan menjadi rata-rata USD2 miliar. Namun, diharapkan sumber pendapatan terpenting di wilayah itu akan didapat dari sumber bawah tanah," ujar dia.

Kesmen mengatakan emas, gas alam dan minyak diperkirakan berada di wilayah tersebut.

Kegiatan amal yayasan Turki di wilayah Bangsamoro

Mengenai kegiatan-kegiatan Yayasan Bantuan Kemanusiaan (IHH) di Bangsamoro, Kesmen mengatakan bahwa yayasan telah membantu masyarakat di kawasan itu sejak 1997 dengan dorongan pemerintah Turki di bawah perdana menteri Necmettin Erbakan.

"Sementara kami menyediakan makanan dan kebutuhan dasar untuk masyarakat di wilayah ini sejak 1997, kami memutuskan untuk membangun pekerjaan permanen pada 2009. Oleh karena itu, sejalan dengan kebutuhan penduduk setempat, kami membangun panti asuhan pertama dan membukanya pada 2011," ungkap dia.

Kesmen menekankan bahwa ada hampir 10.000 anak menjadi yatim piatu karena konflik masa lalu di wilayah tersebut dan yayasan mengurus 700 di antaranya.

Dia mengatakan yayasan terus membangun panti asuhan, sekolah, sumur, masjid dan dapur umum untuk penduduk setempat sejak 2011.

"Yayasan kami juga bekerja untuk pengembangan masyarakat lokal dengan membuka kursus kejuruan dan memberikan beasiswa kepada orang-orang yang ingin melanjutkan pendidikan ke universitas," tutur Kesmen.

Dia juga mengatakan yayasan telah berkontribusi pada perdamaian di wilayah tersebut sebagai satu dari lima anggota proses perdamaian Tim Pemantau Internasional (IMT) yang tidak memihak.

Kesmen menambahkan bahwa baik pejabat pemerintah daerah dan pusat selalu menyatakan penghargaan mereka atas upaya IHH.

Saat berbicara tentang kegiatan yayasan, Kesmen mengajak berkeliling Panti Asuhan Ugur Suleyman Soylemez, yang terletak di salah satu daerah kumuh Kota Cotabato, BARMM.

Pada Mei 2010, pasukan Israel menyerbu kapal bantuan Mavi Marmara yang berbatasan dengan Gaza di perairan internasional, menewaskan 10 aktivis Turki.

Ugur Süleyman Soylemez adalah salah seorang martir yang terbunuh dalam serangan itu. Dia terluka serius dan berada dalam keadaan koma selama empat tahun. Dia akhirnya wafat pada 2014.

Kesmen mengatakan bahwa yayasan menamai panti asuhan itu dengan nama Soylemez agar kenangannya tetap hidup.

Tantangan dalam kegiatan amal

Kesmen mengatakan bahwa meskipun dia sangat senang membantu orang, dia telah melalui banyak kesulitan selama melakukan pekerjaan ini.

"Sangat sulit untuk datang ke sini ketika konflik berlangsung. Hampir semua bandara di sini adalah bandara militer dan daerah itu bukan tujuan wisata. Karena alasan ini, otoritas pemerintah pusat langsung mendeportasi orang yang ingin datang ke sini," ujar dia.

Menekankan kerasnya konflik dan kekacauan di wilayah itu, Kesmen mengatakan dia menyaksikan banyak insiden buruk.

"Jarak antara rumah dan tempat kerja saya sekitar 10 mil. Ketika saya datang ke tempat kerja dari rumah, saya melihat setidaknya beberapa pembunuhan atau mayat setiap pagi," tutur dia.

Soal struktur geografis wilayah itu, Kesmen mengatakan transportasi adalah salah satu masalah paling krusial yang sangat dibutuhkan masyarakat.

Dia mengatakan pemerintah pusat mengikuti dan mencatat upaya dan langkah mereka selama bertahun-tahun.

"Mereka mendapatkan pengalaman [dalam upaya bantuan] di wilayah ini dari kami. Selain itu, mereka memfasilitasi kegiatan bantuan," imbuh dia.

Kesmen mengatakan penduduk setempat berharap bantuan keuangan dari komunitas internasional, terutama Turki dan negara-negara Muslim lainnya, untuk meningkatkan kondisi ekonomi dan pendidikan rakyatnya.

Menekankan pentingnya pendidikan, dia mengakhiri wawancara dengan mengutip kata-kata Haji Murad.

"Perjuangan untuk kemerdekaan ini dibuat oleh kami, namun, anak-anak dari mereka yang tidak berada dalam perjuangan ini akan memerintah negara ini di masa depan. Karena, ketika kami berperang, anak-anak mereka mendapatkan pendidikan yang baik. Oleh karena itu, kita harus memberi perhatian yang diperlukan terhadap pendidikan anak-anak kita," kutip Kesmen.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.