Muhammad Nazarudın Latıef
04 Februari 2020•Update: 04 Februari 2020
JAKARTA
Para eksekutif AirAsia mengklaim bahwa mereka tidak pernah dihubungi sekalipun oleh United Kingdom (UK) Serious Fraud Office (SFO) selama empat tahun penyelidikan skandal Airbus untuk memberi penjelasan atau klarifikasi.
Dalam sebuah pernyataan Chairman AirAsia Datuk Kamarudin Meranun dan Chief Executive Officer AirAsia Group Tony Fernandes mengatakan itu adalah pelanggaran yang jelas terhadap prinsip hukum dasar keadilan dan akses terhadap keadilan.
“Kami dengan tegas menyangkal semua tuduhan kesalahan atau kesalahan pada pihak kami sebagai eksekutif dan direktur AirAsia,” kata mereka.
Mereka mengatakan bahwa Caterham F1, perusahaan yang diduga disponsori oleh Airbus secara tidak tepat, adalah tim Balap Formula 1 yang mempromosikan beberapa perusahaan antara lain AirAsia, AirAsia X, GE dan Airbus.
Selama Kamarudin dan Fernandes menjadi pemegang saham di Caterham, perusahaan itu tidak menghasilkan keuntungan dan akhirnya dijual pada 2014. Sejak awal perusahaan tersebut ditujukan untuk menaikkan branding dan bukan untuk mencari keuntungan.
“Untuk memfasilitasi penyelidikan penuh dan independen oleh AirAsia, kami melepaskan peran eksekutif kami selama awal dua bulan yang dapat diperpanjang atas kebijaksanaan dewan AirAsia.
"Atas permintaan Dewan AirAsia, kami telah sepakat untuk terus membantu AirAsia dalam kapasitas penasehat sebagaimana dan ketika diperlukan," ujar mereka.
Kamarudin dan Fernandes mengatakan siap mengikuti proses hukum dan melawan ketidakadilan yang dilakukan oleh SFO.
Pada 31 Januari lalu, Airbus SE dan SFO menandatangani penangguhan penuntutan. Sebagai gantinya, Airbus setuju membayar denda dan biaya yang signifikan kepada SFO dan juga menyetujui pengungkapan fakta yang melibatkan eksekutif AirAsia.