Politik, Regional

Sebanyak 772 orang tewas sejak kudeta militer di Myanmar

Media lokal melaporkan salah satu jurnalisnya yang ditahan, dimasukkan ke dalam ruang isolasi karena berpuasa

Devina Halim   | 07.05.2021
Sebanyak 772 orang tewas sejak kudeta militer di Myanmar Ilustrasi: Warga sipil berkumpul untuk memprotes kudeta militer di Mandalay, Myanmar pada 28 Februari 2021. (Stringer - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

JAKARTA

Asosiasi Pendamping untuk Tahanan Politik (AAPP) melaporkan, pasukan junta telah menewaskan 772 orang sejak kudeta militer pada 1 Februari 2021 hingga 6 Mei 2021.

Kelompok masyarakat sipil tersebut mencatat ada tambahan tiga orang asal daerah Bago, Magway, dan Mandalay, yang tewas pada Rabu dan didokumentasikan pada Kamis.

Data AAPP juga menunjukkan, 3.738 orang masih ditahan, dengan 84 orang di antaranya dijatuhi hukuman.

“Ketika warga sipil ditangkap, mereka disiksa secara tidak manusiawi,” kata AAPP dalam keterangannya, Kamis dini hari.

Berdasarkan laporan AAPP, pasukan junta masih terus melakukan kekerasan terhadap warga sipil di Myanmar.

Pada Rabu siang, kata AAPP, pasukan junta menembak seorang pengendara motor di Kotapraja Aungmyaythazan, Mandalay, karena tidak berhenti.

"Dia (pengendara) berhasil lolos, tetapi seorang perempuan ditembak dan dibunuh ketika sedang menunggu untuk mendapatkan vaksin Covid-19," tulis AAPP.

Kelompok masyarakat sipil itu juga melaporkan bahwa Departemen Administrasi Umum (GAD) kini berada di bawah Kementerian Dalam Negeri, sejak 5 Mei 2021.

Menurut AAPP, langkah itu membuat pemerintahan di tingkat desa atau kelurahan berada di bawah kendali pemerintah pusat sehingga junta dapat mengendalikan pemerintahan secara efektif.

Jurnalis ditempatkan di ruang isolasi setelah berpuasa

Media independen, Myanmar Now, melaporkan salah satu jurnalisnya ditempatkan di ruang isolasi setelah mulai berpuasa Ramadan.

Jurnalis bernama Kay Zon Nway tersebut sebelumnya ditangkap ketika meliput demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon pada akhir Februari 2021.

Kuasa hukum Kay, Nilar Khine mengungkapkan, kliennya telah berada di ruang isolasi sejak 28 April, tetapi dia baru mengetahuinya ketika melihat Kay saat sidang, Kamis.

“Beberapa orang melakukan protes dengan duduk di penjara, tetapi dia (Kay) berpuasa karena Ramadan. Dia dimasukkan ke dalam kurungan tanpa alasan,” ucap Nilar dikutip dari Myanmar Now, Kamis.

Menurut seorang tahanan yang baru dibebaskan dari penjara tempat Kay juga ditahan, sejumlah orang memberi tahu petugas penjara bahwa Kay melakukan protes, padahal jurnalis itu berpuasa karena alasan agama.

Petugas penjara tidak dapat dihubungi mengenai kondisi Kay lebih lanjut.

Dalam kasus ini, Kay dijerat dengan pasal terkait penghasutan dengan ancaman penjara hingga tiga tahun.

Menurut pengacaranya, seorang polisi yang menjadi penuntut dalam kasus tersebut bersaksi dalam sidang, Kamis, bahwa Kay ditangkap karena menghasut protes di Sanchaung.

Menanggapi hal itu, Nilar menyampaikan dalam sidang bahwa Kay berhak untuk meliput di bawah aturan terkait media di Myanmar.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın