Repertoar, Nasional

Yunahar Ilyas, ulama penggagas perdamaian dan bersahabat dengan Turki

Yunahar memuji keberanian presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam menghadapi arogansi negara-negara Barat yang seringkali menindas negara kecil, termasuk negara Islam

Pızaro Gozalı Idrus   | 03.01.2020
Yunahar Ilyas, ulama penggagas perdamaian dan bersahabat dengan Turki Prof. Dr. Yunahar Ilyas. (Dok. Muhammadiyah - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

JAKARTA

Ketua PP Muhammadiyah yang juga Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Yunahar Ilyas meninggal dunia di RS Sarjito Yogyakarta, Kamis malam.

Yunahar meninggal di ruang ICU karena menderita sakit ginjal.

Yunahar merupakan pengajar dan ulama Indonesia dari Muhammadiyah yang aktif menyerukan perdamaian dunia dan menyampaikan dukungannya bagi Turki dan dunia Islam.

Lahir di Bukittingi, Sumatera Barat, pada 22 September 1956, almarhum menjadi anggota Muhammadiyah sejak 1986.

Yunahar memperoleh dua gelar sarjana dan Fakultas Ushuluddin Universitas Ibnu Riyadh pada 1983 dan Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol tahun 1984.

Setelah itu, dia melanjutkan magister di IAIN Sunan Kalijaga pada 1996 dan melanjutkan doktor di perguruan tinggi yang sama pada 2004.

Yunahar lalu resmi diangkat menjadi guru besar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Selama di Muhammadiyah, Buya Yunahar, sapaan akrabnya, pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah periode 2000-2005 dan pada periode 2005-2010 menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah.

Dukungan bagi Turki

Yunahar juga adalah ulama yang memberikan kecintaannya kepada Turki dan dunia Islam.

Dia menegaskan sebagai negara berdaulat, Turki memiliki hak untuk melindungi diri dari serangan kelompok teroris PKK/PYD.

Yunahar mengatakan perang antara Turki dengan kelompok teroris PKK/PYD bukanlah perang melawan Kurdi.

Ulama, yang beberapa kali mengunjungi Turki ini, pernah berdialog dengan perwakilan Kurdi saat menghadiri konferensi di Istanbul.

Saat itu, jelas Yunahar, perwakilan Kurdi menjelaskan bangsanya selalu mendukung pemerintah Erdogan.

“Tapi mereka takut bersuara karena akan menjadi sasaran PKK,” jelas Yunahar kepada Anadolu Agency pada 26 Januari 2018, merespons Operasi Ranting Zaitun yang dilakukan Turki.

Yunahar juga menjelaskan dukungan Amerika Serikat (AS) kepada PKK menunjukkan sikap negeri Paman Sam yang selalu bermain di dua kaki.

“Sebagaimana AS lakukan kepada Qatar dan Saudi yang membiarkan kedua negara ini berkelahi,” kata Yunahar.

Yunahar menilai Turki adalah negara muslim Sunni yang kini masih stabil, selain Indonesia dan Malaysia. Dukungan Turki kepada negara-negara muslim juga kuat.

Yunahar juga menolak upaya kudeta yang dilakukan Fethullah Gullen Terrorist Organization (FETO) pada 15 Juli 2016 terhadap kepemimpinan sah Erdogan.

“Harapan dunia Islam salah satunya ada pada Turki karena Turki ekonominya maju dan merupakan kekuatan yang belum terpecah,” kata dia saat dihubungi Anadolu Agency via telepon pada 18 Juli 2017.

Menurut dia, dibandingkan negara-negara Arab lainnya, Turki masih memiliki persatuan yang tinggi.

“Mudah-mudahan kalau ekonomi Turki makin kompak dan maju, masih ada harapan supaya Islam lebih baik dan kembali punya wibawa di dunia karena sekarang dunia Islam semakin tidak punya wibawa, dianggap angin lalu,” jelas dia.

Dia berharap kekuatan Erdogan sebagai presiden Turki bisa dimanfaatkan untuk kemakmuran dan kesejahteraan Turki dan dunia Islam.

“Dan semoga Turki lebih berperan dalam menyelesaikan persoalan tetangganya seperti Suriah dan Qatar,” kata dia Yunahar.

Yunahar juga memuji keberanian presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam menghadapi arogansi negara-negara Barat yang seringkali menindas negara kecil, termasuk negara Islam.

“Kita perlu pemimpin dunia Islam yang berani menegakkan kepala berhadapan dengan Barat,” ungkap Yunahar.

Suarakan perdamaian global

Yunahar juga ulama yang aktif menyuarakan perdamaian dunia. Terakhir, Yunahar bersama MUI menginisiasi dialog perdamaian antara pemerintah Afghanistan dan Taliban.

Dia pun menyambut kedatangan Taliban di kantor MUI di Jakarta pada Juli 2019 sebagai usaha untuk mendamaikan Afghanistan.

“Kami berharap perdamaian di Afghanistan bisa terwujud,” kata Yunahar.

Untuk itu, kata Yunahar, Taliban siap berdamai dengan pemerintah Afghanistan dan meminta dukungan Indonesia dengan catatan Amerika Serikat angkat kaki.

Yunahar juga menyerukan umat Islam dunia bersatu dalam membantu Palestina menyusul penutupan kawasan Mesjid Al Aqsa di Jerusalem.

“Untuk bisa menyelesaikan masalah Israel-Palestina, umat Islam harus kompak. Kalau dunia Islam tidak bisa bersatu, selaamanya tidak ada wibawanya,” kata dia kepada Anadolu Agency pada 18 Juli 2017.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın