Nicky Aulia Widadio
22 Februari 2019•Update: 24 Februari 2019
Nicky Aulia Widadio
JAKARTA
Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menuturkan terduga teroris di Temanggung, Triyono Wagimin Atmi alias Abu Hilwa, memiliki rencana menyerang kepolisian di Yogyakarta.
Abu Hilwa merupakan anggota jaringan teror Jemaah Ansharut Daulah (JAD).
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo mengatakan rencana teror itu diketahui dari pemeriksaan terhadap Abu Hilwa setelah ditangkap oleh Densus 88.
“Ini sedang dalam pendalaman, dia merencanakan aksi amaliyah menyerang kepolisian yang ada di Yogyakarta,” kata Dedi di Jakarta, Jumat.
Berdasarkan pengakuan Abu Hilwa, ada tiga orang yang membantu dia merencanakan aksi penyerangan tersebut dan mereka berencana mengambil senjata milik personil Polri.
“Ketiga orang ini masih dalam pengejaran Densus 88,” sambung Dedi.
Dedi menuturkan Densus 88 telah lama memantau pergerakan Abu Hilwa, namun dia ditangkap ketika mencoba kabur saat terjaring razia lalu lintas di Temanggung Jawa Tengah.
Polisi lalu lintas yang mencurigai sikap Abu Hilwa kemudian menggeledah mobilnya dan menemukan buku-buku dengan konten radikalisme. Densus 88 kemudian menangkap Abu Hilwa.
Abu Hilwa pernah dideportasi dari Filipina pada Juni 2016 lalu karena hendak mengikuti pelatihan militer di Basilin, Filipina Selatan dengan kelompok Abu Sayyaf.
Dia berangkat ke Filipina bersama Adi Jihadi dan kawan-kawan.
Adi merupakan terpidana kasus penyelundupan senjata di Filipina dan pengiriman personil JAD ke Marawi.
Selain itu, Adi pernah menjadi penyalur dana untuk kasus bom Thamrin di Jakarta pada 2016 lalu dan mengirim anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) ke Suriah.
“Kemampuan (dari hasil latihan militer) akan mereka terapkan di Indonesia untuk membuat amaliyah di Jawa Tengah dan Yogyakarta,” jelas Dedi.
Abu Hilwa juga pernah merencanakan aksi teror yang menyasar polisi bersama Bambang Eko Prasetyo, Nanang Kosim dan lain-lain.
Bambang Eko Prasetyo dan Nanang Kosim merupakan anggota JAD yang telah ditindak oleh Densus 88 pada 2017 lalu.