JAKARTA
Mimpi Yes’a, 37, untuk mendapatkan kehidupan layak dengan menjadi tenaga kerja Indonesia di Malaysia sirna sudah.
Keputusan pemerintah Malaysia memberlakukan Movement Control Order (MCO) atau semacam karantina wilayah (lockdown) membuatnya gagal merasakan gaji pertama.
Pekerja migran asal Madura, Jawa Timur, ini baru saja mulai bekerja pada 1 Maret sebagai petugas kebersihan di tempat fitness di Kuala Lumpur.
Namun, per 18 Maret Malaysia memberlakukan MCO akibat meluasnya wabah Covid-19.
Kondisi ini membuat tempat Yes’a bekerja langsung tutup. Nahasnya, pekerja perempuan itu belum menerima gaji sepeser pun.
“Saya sekarang tak punya apa-apa. Buat makan saja saya tak punya, pak,” kata Yes’a kepada Anadolu Agency pada Kamis.
Yes’a mengaku hidupnya kini terlunta-lunta. Dia hanya tinggal sebatang kara di Malaysia, tanpa saudara dan sanak keluarga.
“Saya tidak tahu pak. Saya bingung harus bagaimana,” ucap Yes’a lirih.
Yes’a adalah janda dengan empat anak yang berangkat ke Malaysia pada Februari lalu untuk menghidupi keluarganya di Madura. Sedianya dia menerima upah sebesar 700 ringgit sebulan atau sekitar Rp2,6 juta.
“Anak saya masih kecil-kecil dan saya punya orang tua yang sudah renta,” ujar Yes’a. Dia menerangkan keputusannya hijrah ke Malaysia hanya karena ingin menghidupi keempat anaknya.
Yes’a tidak sendiri. Muhtozi, pekerja migran Indonesia lainnya, menghadapi nasib serupa.
Pria asal Bojonegoro, Jawa Timur ini kini tak memiliki penghasilan imbas kebijakan MCO.
Selama ini, pria berusia 43 tahun itu hanya mengandalkan uang harian sebagai buruh bangunan di salah satu kondominium di Selangor, Malaysia.
Upahnya 65 ringgit sebagai imbalan memeras keringat selama 8 jam kerja.
Uang itu biasanya dia kirim ke kampung untuk menghidupi istri dan dua anaknya.
Namun kini situasinya berubah. Kebijakan MCO pemerintah Malaysia membuat perusahaan “merumahkannya” bersama pekerja migran lainnya.
Situasi ini membuat Muhtozi tak bisa mengirim uang untuk istri dan dua anaknya di Bojonegoro. Kondisinya juga terancam karena tak dapat bantuan logistik dari tempatnya bekerja.
“Jangkan kirim uang ke kampung, untuk makan sehari-hari saya tak punya,” ujar Muhtozi.
Muhtozi pun kini tinggal di sebuah bedeng yang diberikan perusahaannya.
Dia pun kini hanya mengandalkan sesama WNI di Malaysia. Itu pun harus dia bagi-bagi dengan 8 pekerja migran Indonesia lainnya yang bernasib sama dengannya.
“Saya meminta bantuan pemerintah Indonesia untuk memperhatikan nasib kami,” ujar dia.
Bersatu galang dana
Hardjito, WNI di Malaysia, adalah satu orang yang tergerak, untuk menggalang dukungan bagi para pekerja migran Indonesia.
Pria yang berprofesi sebagai jurnalis ini menyampaikan banyak buruh migran yang tidak dapat penghasilan karena tempat mereka bekerja mengalami kendala keuangan.
Hal ini terungkap saat banyak pekerja migran melapor mengenai kondisi keuangan mereka yang menipis akibat kebijakan pemerintah Malaysia.
“Mereka mengirim foto bersama anaknya yang kekurangan makan,” ujar pria asal Jawa Tengah ini kepada Anadolu Agency pada Rabu.
Akhirnya jurnalis di sebuah media asing ini bersama Komunitas WNI Muslim Kuala Lumpur berinisiatif menggalang dana untuk meringankan beban pekerja migran Indonesia.
Satu orang cukup dengan menyumbang 30 ringgit atau sekitar Rp115 ribu.
"Kami tergabung dalam satu induk ormas-ormas yang diinisiasi oleh KBRI Kuala Lumpur, ada belasan ormas yang membantu PMI di Malaysia," terang dia.
Total hingga kini Hardjito bersama para WNI di Malaysia telah mengumpulkan 17.000 ringgit atau sekitar Rp60 juta.
“Hasil penggalangan dana kami bagikan kepada buruh migran yang kerja serabutan,” ujar pria berusia 43 tahun ini.
Penyaluran ini, kata Hardjito, mencakup sejumlah wilayah Malaysia antara lain Bandar Baru Ampang, Kuantan, Port Dickson, Selayang, Pandan Jaya, Sentul, Serdang, dan lain sebagainya.
Berbekal uang yang ada, kata Hardjito, para pekerja dapat membeli bahan pokok agar mereka dapat bertahan di tengah situasi.
Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia pada 2018 mencatat Malaysia merupakan negara tujuan utama TKI, yaitu mencapai 90.671 pekerja atau hampir sepertiga dari total TKI yang bekerja di luar negeri.
Sedangkan Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) mencatat sebanyak 11.566 pekerja migran Indonesia di Malaysia yang pulang ke tanah air akibat wabah Covid-19.
Hardjito mengatakan walaupun dirinya berprofesi jurnalis, pikirannya tetap terbagi untuk membantu para pekerja migran agar tetap mendapatkan keperluan sehari-sehari di tengah wabah Covid-19.
“Saya konsentrasi ke mereka. Mereka di rumah tidak bekerja,” kata Hardjito.
Pemerintah pasok logistik
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri RI menyampaikan telah mengirimkan paket logistik lebih dari 3.000 bagi para warga negara Indonesia di Malaysia.
Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Judha Nugraha menyebut WNI yang bekerja sebagai pekerja harian lepas paling merasakan dampak lockdown Malaysia.
Sedangkan pekerja migran yang memiliki majikan, kata Judha, berada dalam kondisi lebih baik.
"Berdasarkan pengamatan perwakilan republik Indonesia yang ada di 6 wilayah Malaysia, dampak movement control order dirasakan paling besar bagi warga negara Indonesia yang bekerja sebagai pekerja harian lepas,” kata Judha dalam konferensi pers di Jakarta.
Judha mengungkapkan pemerintah Indonesia sudah mengirimkan bantuan logistik sebanyak 3.143 paket. Pemerintah juga telah menyiapkan 3.000 paket logistik tambahan.
Sebelumnya, Malaysia mengumumkan kebijakan MCO terhitung mulai 18 Maret 2020. Aturan ini melarang warganya bepergian ke luar negeri dan menutup semua toko, kecuali yang menjual makanan dan kebutuhan sehari-hari, untuk membendung lonjakan infeksi Covid-19.
Peraturan ini juga melarang kegiatan yang melibatkan massa, termasuk kegiatan keagamaan, olahraga, dan sosial budaya.
Semua tempat ibadah ditutup dan toko-toko ditutup, kecuali yang menjual kebutuhan sehari-hari.
Malaysia selanjutnya memperpanjang MCO hingga 14 April mendatang.
news_share_descriptionsubscription_contact
