Turki, Nasional

Meneropong jejak makam Turki Utsmani di Aceh

Peneliti nisan mengatakan jumlah makam yang berasal dari abad ke 16 masehi berjumlah 8 nisan

Pizaro Gozali İdrus   | 22.08.2019
Meneropong jejak makam Turki Utsmani di Aceh Sejumlah mahasiswa Aceh berziarah ke makam sejarah ulama-ulama Turki di Desa Bitai, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh, Indonesia, Rabu 21 Agustus 2019. Ratusan makam guru, ulama dan pejuang Turki di Bitai menunjukkan hubungan persaudaraan antara Aceh dengan Turki pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Inayatsyah dengan Kekaisaran Khalifah Turki Utsmani. (Khalis Surry - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

BANDA ACEH

Tepat 480 tahun lalu, para ulama, guru, dan prajurit Kesultanan Turki Utsmani berlayar menuju tanah Aceh untuk membantu melawan penjajah Portugis pada abad 16. 

Jasa-jasa mereka lalu dikenang masyarakat Aceh dengan merayakan 480 tahun hubungan Aceh Turki Selasa lalu di Banda Aceh.

Ketua Masyarakat Peduli Sejarah (Mapesa) Aceh Mizuar Mahdi Al Asyi mengatakan jejak hubungan diplomatik antara Kerajaan Aceh Darussalam dengan Kesultanan Turki Utsmani dapat terlihat dari Kompleks Makam Tengku Di Bitay di Desa Bitai, Banda Aceh.

Masyarakat Aceh menyebut komplek di sekitar makam ini sebagai “Kampung Turki”.

Berdasarkan catatan sejarah, kata Mizuar, nama Tengku Di Bitay diambil dari ulama Palestina yang memimpin rombongan Kesultanan Turki Utsmani ke Aceh.

Nama asli ulama tersebut adalah Muthalib Ghazi bin Mustafa Ghazi yang kemudian dikenal dengan nama Tengku Syekh Tuan Di Bitai.

Berdasarkan catatan sejarah, saat itu Kerajaan Aceh Darussalam dipimpin oleh Sultan Salahuddin.

Penulis Denys Lombard dalam bukunya Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636) menyebutkan Sultan Salahuddin memerintah pada tahun 1528-1539.

Selama di Aceh, kata Mizuar, Tengku Di Batai berkontribusi dalam membantu Kesultanan Aceh dalam bidang pengajaran agama Islam.

“Beliau sangat dihormati karena kesehariannya digunakan untuk menerangi umat. Jadi Kesultanan Turki saat itu tidak hanya mengirim prajurit, tapi juga ulama dan guru,” kata Mizuar, yang masih keturunan Turki ini kepada Anadolu Agency pada Rabu di Banda Aceh.

Mizuar mengatakan komplek makam Utsmani ini juga menjadi tempat para prajurit Turki Utsmani dimakamkan.

Saat Utsmani melakukan ekspedisi, kata Mizuar, ratusan tentara dari Turki ini mendarat di Bitai dan mendirikan akademi militer.

Dalam perkembangannya, kata Mizuar, makam ini juga diperuntukkan bagi para bangsawan dan ulama-ulama Kesultanan Aceh Darussalam.

Untuk mengidentifikasi umur makam, Mizuar mengatakan makam yang memiliki nisan berasal dari periode awal dan penghujung abad ke-16 masehi.

Peneliti nisan ini mengatakan jumlah makam yang berasal dari abad ke 16 masehi berjumlah 8 nisan.

Juru kunci komplek makam ini adalah perempuan Aceh bernama Azimah.

Sebagai penjaga makam, Azimah bersama suami bertugas membersihkan makam setiap saat.

Jika rumput-rumput di sekitar makam panjang, suaminya bertugas memotongnya.

“Kami berdua mengabdikan diri untuk merawat makam leluhur kami,” ujar Azimah.

Perempuan berumur 47 tahun ini mengaku sudah menjadi penjaga makam sejak sebelum tsunami Aceh.

Dia menyampaikan sebelumnya Komplek makam porak-poranda saat tsunami menerjang Aceh pada 2004. Para korban tsunami juga banyak yang terdampar.

Beruntung, kata Azimah, Bulan Sabit Merah Turki datang untuk menyelamatkan makam. Lembaga asal Turki itu lalu melakukan pemugaran pada 2005.

“Bulan Sabit Merah Turki memugar makam ini dengan memberikan pagar dan memasang granit pada makam,” jelas dia yang juga menjadi korban tsunami.

Membuka tabir

Saat ini, kata Azimah, banyak orang yang datang ke komplek ini untuk memenuhi rasa penasarannya soal hubungan Turki Utsmani dan Aceh.

Mereka, tutur Azimah, datang dari dalam dan luar negeri seperti Malaysia, Jepang, Meksiko, negara-negara Afrika, dan negara-negara lainnya.

“Sudah banyak turis asing datang ke sini,” kata dia.

Salah satu pengunjung, Jihan Ashalia Zahrania, mengaku mendapatkan informasi berharga mengenai komplek ini.

Gadis, yang tengah studi di Universitas Istanbul, ini mengaku mendapatkan informasi berharga dalam ziarahnya ke makam ini.

“Kunjungan ini membuka pengetahuan saya, ternyata hubungan Aceh dan Turki itu sedekat ini,” kata dia.

Meskipun kuliah di Turki, dia sebelumnya mengira hubungan Turki dan Aceh sekedar kekerabatan.

Namun usai melihat makam, kata dia, ternyata Aceh dan Turki telah menjalin hubungan secara luas seperti pendidikan, militer, keagamaan, dan budaya.

Dia menyarankan agar bangunan makan dapat mendapatkan perhatian pemerintah karena ada beberapa bangunan yang rusak seperti atap museum.

“Ini sebagai tanda hormat kita kepada mereka pahlawan yang sudah membantu kita,” jelas Jihan.

Pemkot dukung pemugaran

Pemerintah Kota Banda Aceh menyampaikan sudah berdialog dengan Bulan Sabit Merah Turki untuk merenovasi kembali komplek makam ini.

Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman mengaku akan mendukung penuh pemugaran komplek makam ini agar dapat menjadi destinasi sejarah di Aceh.

“Kami mengharapkan ada pertemuan lanjutan dengan Bulan Sabit Merah Turki,” ujar Aminullah kepada Anadolu Agency.

Aminullah menegaskan Pemerintah Kota Banda Aceh siap merawat, dan mengelola melestarikan komplek makam karena situs ini merupakan warisan sejarah yang harus dihargai.

“Karena di situlah berada makam para ulama besar,” kata dia.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.