JAKARTA
Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menyatakan situasi di Jayapura dan Manokwari telah berangsur kondusif pada Selasa.
Aksi unjuk rasa masih berlangsung di Kota Sorong, Papua Barat dengan jumlah massa sekitar 500 orang.
Aspirasi yang mereka sampaikan masih sama, yakni terkait rasisme dan diskriminasi yang dialami mahasiswa Papua di Surabaya pada 16-17 Agustus 2019.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan polisi mencoba bernegosiasi dengan massa agar aksi berlangsung damai.
“Yang jelas apa yang jadi aspirasinya teman-teman mahasiswa di Sorong diterima, ditampung dan diserahkan ke pemerintah pusat,” kata Dedi di Jakarta, Selasa.
Kapolres Kota Sorong AKBP Mario Christy Siregar mengatakan massa sempat bertemu dengan Wali Kota Sorong untuk menyampaikan aspirasi.
Namun saat wali kota memberi respons, massa melempari wali kota dengan botol dan batu.
“Pengunjuk rasa melempar Pak Wali Kota dengan botol dan batu sehingga kita evakuasi,” kata Mario ketika dihubungi.
Polisi sempat menembakkan gas air mata dalam rangka evakuasi dan memasang sekat agar kericuhan tidak meluas ke wilayah lain.
Manokwari mulai kondusif
Salah satu warga Manokwari sekaligus Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari, Yan Christian Warinussy mengatakan situasi di Manokwari telah membaik, meski sekolah dan perkantoran masih libur.
“Tadi pagi saya keliling sudah terkendali, lalu lintas sudah lancar, toko beberapa sudah ada yang buka,” kata Warinussy kepada Anadolu Agency, Selasa.
Menurut dia, tidak ada aksi unjuk rasa lanjutan di Kota Manokwari pada hari ini.
Mahasiswa di Manokwari sebelumnya merencanakan aksi unjuk rasa itu berlangsung damai dengan tujuan menyampaikan aspirasi mereka lewat DPR Papua.
Namun pada perkembangannya muncul kelompok orang yang melempari batu, merusak dan membakar fasilitas umum.
“Saya pastikan itu bukan mahasiswa. Itu kelompok yang muncul dari kiri-kanan jalan. Mereka spontan muncul,” ungkap Warinussy.
Aksi unjuk rasa yang berlangsung di Jayapura, Manokwari dan Sorong pada Senin merupakan respons terhadap peristiwa di Surabaya dan Malang, Jawa Timur.
Polri mencatat ada 25 fasilitas publik yang rusak sebagai dampak dari unjuk rasa di Manokwari dan Sorong pada Senin.
Fasilitas yang rusak di antaranya gedung Dewan Perwakilan Rakyat Papua, gedung Majelis Rakyat Papua di Manokwari, serta Bandar Udara Domine Eduard Osok di Sorong.
Sebelumnya pada peringatan Hari Kemerdekaan RI pada Sabtu lalu, 17 Agustus 2019, terjadi penggerebekan di Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan Nomor 10, Pacar Keling, Kota Surabaya, Jawa Timur.
Penggerebekan dilakukan oleh aparat keamanan diikuti pengepungan Satpol PP dan ormas. Sebanyak 43 mahasiswa digelandang ke Kantor Polres Surabaya.
Diduga penggerebekan dipicu kesalahpahaman setelah Bendera Merah Putih milik Pemerintah Kota Surabaya jatuh di depan asrama. Polisi kemudian memulangkan ke-43 mahasiswa tersebut pada Minggu dini hari.
Dalam pengepungan tersebut, terdengar lontaran kata-kata bersifat rasis terhadap mahasiswa Papua.
news_share_descriptionsubscription_contact

