Nıcky Aulıa Wıdadıo
15 Januari 2020•Update: 15 Januari 2020
JAKARTA
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan banjir dan longsor yang terjadi di Bogor dan Banten pada awal 2020 dipengaruhi oleh kerusakan alam di bagian hulu.
Menurut Kepala BNPB Doni Monardo, terdapat aktivitas pertambangan ilegal, pembalakan liar, serta alih fungsi lahan yang “luar biasa” di Sukajaya, Bogor serta di Lebak, Banten.
“Kerusakannya betul-betul luar biasa, kalau tidak segera ditangani, kerusakannya tahun depan bisa lebih parah,” kata Doni di Jakarta, Selasa malam.
Untuk jangka pendek, BNPB mengusulkan penanaman vertiver atau akar wangi di titik-titik yang rawan banjir dan longsor.
Vertiver memiliki kemampuan mencegah tanah longsor dan erosi serta dapat menahan gempuran aliran hujan deras dan menjaga kestabilan tanah sebagai langkah upaya mitigasi bencana.
“Penanaman ini harus dilakukan segera, sebelum musim hujan berakhir,” kata Doni.
Sedangkan untuk jangka panjang BNPB mendesak adanya penegakan hukum terhadap pertambangan ilegal dan pembalakan liar di kawasan tersebut.
Selain itu, alih fungsi lahan juga perlu dibenahi untuk memastikan daerah resapan air dan penahan longsor tetap ada.
Di Sukajaya misalnya, longsor terjadi di sekitar lahan berstatus hak guna usaha (HGU) yang ditinggalkan pemegang haknya, lalu digarap oleh warga dengan menanami palawija.
“Lahan yang kemiringan 30 derajat itu ditanami sawah. Ketika curah hujan tinggi, tidak ada lagi yang menahan tanah. Akhirnya, longsor," kata Doni.