Nıcky Aulıa Wıdadıo
15 Januari 2020•Update: 15 Januari 2020
JAKARTA
Kebakaran hutan dan lahan telah mulai terjadi di wilayah Riau di saat sebagian besar wilayah Indonesia masih dilanda musim hujan dan potensi banjir.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana BNPB Agus Wibowo mengatakan wilayah Riau telah memasuki musim kemarau sehingga potensi karhutla kembali muncul.
“Puncak (musim kemarau di Riau) Februari sampai Maret, setelah itu musim hujan lagi sampai Mei atau Juni,” kata Agus kepada Anadolu Agency, Rabu.
BNPB mencatat ada 62,03 hektare lahan yang telah terbakar di Siak, Bengkalis, Dumai, Indragiri Hulu, dan Kampar hingga Selasa, 14 Januari 2020.
Sebanyak 51,53 hektare di antaranya telah berhasil dipadamkan, sedangkan sekitar 10 hektare lainnya masih dalam proses pendinginan.
Selain itu, terdapat 130 titik panas (hotspot) yang terpantau di Riau oleh LAPAN pada 1-14 Januari.
Menurut Agus, Satgas Karhutla yang terdiri dari personel BPBD, TNI dan Manggala Agni juga telah bersiaga untuk memadamkan api.
“Pemadaman harus segera supaya tidak membesar dan merambat,” ujar dia.
Riau merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terdampak kebakaran hutan dan lahan cukup parah pada tahun lalu. BNPB mencatat ada 942.485 ribu hektare lahan yang terbakar di Indonesia sepanjang 2019.
Kebakaran hutan telah menyebabkan sekolah-sekolah di area terdampak sempat diliburkan, penerbangan terganggu, serta 919 ribu orang menderita infeksi saluran pernapasan.
Selain itu, sejumlah negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura juga ikut terpapar kabut asap kebakaran hutan.
Berdasarkan perhitungan Bank Dunia, karhutla telah menyebabkan kerugian senilai Rp75 triliun atau sekitar USD5,2 miliar.