Megiza Soeharto Asmail
05 Desember 2017•Update: 06 Desember 2017
Megiza Asmail
JAKARTA
Kondisi Gunung Agung sejak Senin malam dipastikan relatif tenang. Berdasarkan pemantauan Pos Rendang, Karangasem, Bali, asap terlihat sangat tipis bahkan nyaris tidak terlihat sejak pukul 19.00 WITA.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan konsentrasi gas SO2 (sulfur dioksida) yang terukur pada kemarin siang turun drastis dibandingkan fase erupsi eksplosif yang terjadi pada 26-27 November lalu.
“Saat ini gas 20 kali lebih rendah. Kondisi tersebut setidaknya memiliki dua kemungkinan,” kata Sutopo di Jakarta, Selasa.
Kemungkinan pertama, kata dia, saat ini magma yang naik ke permukaan lajunya melemah karena kehilangan energi akibat gas magmatik telah semakin berkurang, pasca erupsi dan pada akhirnya habis menuju kesetimbangannya (equilbrium).
Sedangkan kemungkinan kedua, konsentrasi gas SO2 dapat terjadi karena adanya penyumbatan pada pipa magma, serta terhalangnya fluida magma yang bergerak ke oleh lava di permukaan yang mendingin dan mengeras.
“Jika kemungkinan pertama yang terjadi maka potensi terjadinya erupsi akan berkurang karena magma telah kehilangan mobilitasnya. Bahkan erupsi-erupsi selanjutnya bisa jadi tidak teramati lagi dalam waktu dekat, sampai magma baru lahir,” jelas dia.
Sedangkan, imbuh Sutopo, jika yang terjadi adalah kemungkinan kedua, maka potensi terjadinya erupsi akan meningkat karena akumulasi tekanan magma bertambah.
Dia menjelaskan, pada waktu tertentu ketika lava yang menutupi keluarnya magma tadi kekuatannya lebih rendah dari tekanan yang diakumulasi di bawahnya, maka erupsi dapat terjadi.
“Jika kemungkinan yang kedua terjadi, maka kemungkinan lanjutan aktivitas Gunung Agung adalah akumulasi tekanan semakin besar. Karena jika masa tenangnya lama, maka erupsi memungkinkan terjadi lebih eksplosif dari erupsi kemarin,” sebut Sutopo.
Lebih lanjut, dia mengingatkan, bahwa pada erupsi Gunung Agung tahun 1963 silam terdapat fase istirahat sekitar dua minggu sebelum terjadinya erupsi utama yang mencapai ketinggian sekitar 23 kilometer.
Adapun, jika masa tenangnya pendek, maka kemungkinan akumulasi tekanan tidak akan besar. Dia menyebut, kondisi dapat muncul dengan eksplosivitas mirip erupsi kemarin atau lebih rendah daripada erupsi utama pada tahun 1963.
Dia menegaskan, kompleksitas yang dimiliki oleh gunung api maka sains vulkanologi hingga saat ini belum bisa didekati dengan metode deterministik (yang pasti-pasti).
Sedangkan, vuklanologi adalah sains yang didekati metode probabilistik (yang mungkin-mungkin), di mana unsur ketidakpastian harus selalu dimasukan.
“Artinya, meskipun saya di atas menjabarkan beberapa kemungkinan, bisa jadi Gunung Agung punya rencananya sendiri yang tidak masuk kemungkinan di atas,” kata Sutopo.
Mengenai imbauan berbagai negara yang melarang warganya untuk berkunjung ke Bali, Sutopo menegaskan kondisi Bali saat ini aman.
“Status Awas itu berlaku untuk radius 8 kilometer dari puncak Gunung Agung. Wilayah Bali yang lain aman,” sebut dia.