Nicky Aulia Widadio
31 Agustus 2020•Update: 01 September 2020
JAKARTA
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat sebanyak 100 dokter telah meninggal dunia selama pandemi Covid-19 yang berlangsung hampir enam bulan.
Dokter ke-100 yang meninggal akibat terinfeksi Covid-19 ialah dokter Edwin Marpaung yang merupakan spesialis bedah tulang di Medan, Sumatra Utara.
“Dokter yang gugur dalam penanganan Covid-19 sudah mencapai 100 orang. Demikian juga petugas kesehatan lainnya yang gugur juga bertambah,” kata Ketua Umum Pengurus Besar IDI, Daeng Faqih melalui keterangan tertulis, Senin.
Juru bicara PB IDI Halik Malik mengatakan jumlah dokter yang meninggal bertambah signifikan dalam dua bulan terakhir.
Pada 4 Agustus 2020, IDI mencatat sebanyak 74 dokter yang meninggal selama pandemi.
Artinya, jumlah dokter yang meninggal akibat infeksi SARS-CoV-2 ini bertambah 26 orang dalam 27 hari terakhir.
“Pada dua bulan terakhir ini rata-rata setiap hari ada satu dokter yang meninggal akibat Covid-19,” kata Halik kepada Anadolu Agency.
Halik menuturkan jumlah dokter yang meninggal bisa jadi lebih dari jumlah yang tercatat, sebab kasus dokter yang meninggal dicatat berdasarkan laporan.
Jumlah itu juga belum termasuk tenaga medis lainnya seperti perawat yang juga meninggal akibat infeksi virus ini.
IDI meminta agar pemerintah membuka data jumlah tenaga medis yang meninggal akibat Covid-19 agar analisis faktor risiko dan tindakan pencegahan yang lebih komprehensif bisa dilakukan.
Analisis kasus per kasus yang dilakukan IDI menunjukkan kesiapan dan penerapan protokol kesehatan di seluruh fasilitas kesehatan di Indonesia belum merata.
Selain itu, pemeriksaan berkala terhadap tenaga kesehatan belum berjalan konsisten dan belum optimal.
“Ada yang setelah enam bulan baru satu kali diperiksa, ada juga yang belum pernah. Idealnya kan sekali dua minggu atau setiap bulan di-swab supaya cepat terdeteksi,” lanjut dia.
Bertambahnya jumlah tenaga kesehatan yang meninggal dan yang terinfeksi Covid-19 juga mengakibatkan beban fasilitas kesehatan untuk menangani pasien bertambah berat.
Pasalnya, mereka yang terinfeksi harus menjalani isolasi sedangkan sebagian lainnya bekerja melebihi waktu dan harus diistirahatkan akibat kelelahan.
Sementara itu, menambah jumlah tenaga kesehatan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat dan tidak sebanding dengan penambahan jumlah kasus positif.
Di saat yang sama, jumlah kasus dan tingkat hunian ruang isolasi di Indonesia terus meningkat.
Indonesia telah melaporkan lebih dari 3 ribu kasus per hari pada Jumat dan Sabtu lalu, yang merupakan rekor penambahan kasus tertinggi sejak awal pandemi.
“Kesiapsiagaan faskes dan dokternya tidak memadai, sementara beban pelayanan terus meningkat atau tidak kunjung berkurang, akibatnya sebagian dokter terpaksa bekerja overload dan overtime, kelelahan di tengah minimnya perlindungan,” jelas Halik.