Pizaro Gozali İdrus
17 Juli 2019•Update: 18 Juli 2019
Pizaro Gozali
JAKARTA
Sebanyak 10 Rohingya, yang terdiri dari 7 pria dan 3 perempuan, melarikan diri dari tahanan sementara di Songhkla Thailand, lansir Bernama, pada Selasa.
Mereka melarikan diri bersama 8 orang Myanmar yang turut ditahan oleh otoritas Thailand di Distrik Bangklam.
Polisi menduga sindikat perdagangan manusia telah membantu mereka melarikan diri dari pusat penahanan.
Kepala polisi Bangklam Kol Pol Thiti Kitrunroj mengatakan para pelarian itu termasuk di antara 41 korban perdagangan manusia yang diselamatkan dalam operasi pada 6 Juli.
"Mereka diyakini telah melarikan diri melalui jendela," kata dia kepada wartawan.
Thiti meyakini pelarian warga Rohingya itu telah direncanakan oleh sindikat perdagangan manusia yang mencoba menyelundupkan mereka ke Malaysia.
Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kelompok yang paling teraniaya di dunia, menghadapi serangan terus-menerus sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada 2012.
Menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA), sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 24.000 Muslim Rohingya dibunuh oleh tentara Myanmar.
Laporan OIDA yang berjudul 'Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terkira' mengungkapkan ada lebih dari 34.000 orang Rohingya dibakar hidup-hidup, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli.
Sekitar 18.000 perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar dan ratusan rumah Rohingya dibakar atau dirusak.
Amnesty International mengungkapkan lebih dari 750.000 pengungsi, sebagian besar anak-anak dan perempuan, melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan kekerasan ke kelompok Muslim minoritas itu pada Agustus 2017.
PBB mencatat adanya perkosaan massal, pembunuhan, termasuk bayi dan anak kecil, pemukulan brutal, dan penculikan yang dilakukan oleh personel keamanan.
Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut dapat dikategorikan sebagai kejahatan kemanusiaan