Beyza Binnur Donmez
04 Februari 2026•Update: 06 Februari 2026
JENEWA
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengajukan permohonan dana sebesar USD1 miliar untuk merespons krisis kesehatan paling serius di dunia sepanjang 2026.
WHO memperingatkan, pemangkasan pendanaan global telah memaksa ribuan fasilitas kesehatan tutup dan menyebabkan jutaan orang kehilangan akses layanan medis.
Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO, Chikwe Ihekweazu, mengatakan sekitar seperempat miliar orang saat ini hidup dalam krisis kemanusiaan yang menghilangkan perlindungan paling dasar, seperti keselamatan, tempat tinggal, dan akses terhadap layanan kesehatan.
“Kebutuhan kesehatan meningkat tajam, baik akibat cedera, wabah penyakit, malnutrisi, maupun penyakit kronis yang tidak tertangani, sementara akses layanan justru semakin menyempit,” kata Ihekweazu dalam konferensi pers di Jenewa, Selasa (3/2).
Ia menjelaskan, penggalangan dana tersebut ditujukan untuk mendukung penanganan 36 krisis kesehatan, termasuk di Gaza dan kawasan Timur Tengah, Sudan, Ukraina, Republik Demokratik Kongo, Haiti, serta Myanmar.
Menurut Ihekweazu, 2025 menjadi salah satu tahun tersulit bagi respons kemanusiaan global. Pemotongan dana internasional memaksa sekitar 6.700 fasilitas kesehatan di 22 wilayah krisis untuk ditutup atau mengurangi layanan, sehingga sekitar 53 juta orang terputus dari akses layanan kesehatan.
“Keluarga dihadapkan pada pilihan yang mustahil, seperti menentukan apakah harus membeli makanan atau obat-obatan. Seharusnya tidak ada orang yang dipaksa menghadapi pilihan seperti ini,” ujarnya.
Pada tahun lalu, WHO menangani 50 situasi darurat di 82 negara, menjangkau lebih dari 30 juta orang, mendukung lebih dari 8.000 fasilitas kesehatan, serta mengerahkan lebih dari 1.400 klinik keliling.
“Kesehatan tidak ternilai harganya. Hari ini kami kembali mengajak dunia untuk berinvestasi pada kesehatan,” kata Ihekweazu.
Amerika Serikat, yang selama ini merupakan salah satu donor utama WHO, secara resmi menarik diri dari organisasi tersebut pada Januari lalu.