Maria Elisa Hospita
03 Oktober 2018•Update: 03 Oktober 2018
Sena Guler
ANKARA
Menteri Luar Negeri Turki mengatakan bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk membersihkan Manbij sepenuhnya dari teroris YPG dan membukanya bagi penduduk sipil.
"Meskipun ada sedikit keterlambatan, namun patroli terkoordinasi [Turki dan Amerika Serikat (AS)] di wilayah Manbij penting untuk dilakukan," kata Mevlut Cavusoglu usai pertemuan World Economic Forum di Jenewa, Swiss.
Patroli yang dimaksud Cavusoglu adalah yang dilakukan oleh pasukan Turki dan AS di Manbij sejak Juni sebagai bagian dari kesepakatan untuk membersihkan wilayah dari kelompok teror.
Dia juga menekankan bahwa kesepakatan itu harus dilaksanakan sepenuhnya oleh AS. Meskipun ada penundaan dari pihak AS, namun kesepakatan itu masih berlaku.
Mengenai perundingan antara Turki, Rusia, Jerman, dan Prancis tentang Suriah, Cavusoglu mengatakan bahwa mereka sedang mengupayakan untuk menggelar pertemuan puncak setelah pemilu 14 Oktober di Bavaria, Jerman.
"Pertemuan empat negara ini penting bagi masa depan dan proses politik Suriah. Dengan kesepakatan Idlib, harapan baru pun lahir bagi proses politik," kata dia sambil mengakui peran Turki dalam proses tersebut.
Pada 17 September, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin sepakat untuk menetapakan zona demiliterasi di Provinsi Idlib, Suriah.
"Inilah saatnya untuk mengambil langkah nyata bagi solusi politik," tegas Cavusoglu.
Menlu Turki juga mengatakan bahwa Jerman telah menyaksikan sendiri bahaya Organisasi Teroris Fetullah (FETO) karena kelompok itu menimbulkan risiko tidak hanya bagi Turki, namun juga setiap negara di mana FETO berada.
Menurut Cavusoglu, Turki menaruh harapan besar pada Jerman dalam perang melawan FETO dan PKK. Dia yakin bahwa kunjungan Erdogan ke negara itu pada 27-29 September akan membuahkan hasil.
FETO dan pemimpinnya yang berbasis di AS, Fetullah Gulen, merancang kudeta di Turki pada 15 Juli 2016, yang menyebabkan 251 orang tewas dan hampir 2.200 luka-luka.
Selama lebih dari 30 tahun kampanye teror melawan Turki, PKK - yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, AS dan Uni Eropa - telah bertanggung jawab atas kematian hampir 40.000 orang, termasuk perempuan dan anak-anak.