07 Juli 2017•Update: 08 Juli 2017
Tugrul Cam
ANKARA
Turki telah mendeportasi 5.000 terduga teroris dan melarang 53.000 terduga berkunjung ke Turki, kata Presiden Recep Tayyip Erdogan, Kamis.
“Lebih dari 3.000 terduga teroris, termasuk para pemimpinnya, telah dinetralisasi dalam Operasi Perisai Eufrat,” tambah Erdogan di konferensi pers Ankara bersama Presiden Indonesia Joko Widodo.
Ia mengatakan terduga teroris dari Asia Selatan termasuk di antara ribuan orang yang dideportasi dari Turki.
Tentara Pembebasan Suriah (FSA) dibantu militer Turki merebut wilayah utara Suriah dari Daesh, sejak Agustus tahun lalu hingga Maret tahun ini. Berkat operasi ini, batas-batas wilayah Turki telah bebas dari Daesh sepenuhnya, sehingga 100.000 warga Suriah dapat pulang ke negaranya.
Dalam pertemuan tersebut, Erdogan mengatakan isu-isu regional dan perkembangan terbaru di Qatar telah didiskusikan.
“Kami berkesempatan untuk bersama-sama mendiskusikan langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam memerangi terorisme di dunia,” jelas Erdogan.
Berbagi informasi intelijen, memerangi teror
“Kita memasuki masa-masa kritis di mana kita harus lebih waspada dan memaksimalkan berbagi informasi intelijen. Kita harus mencegah teroris Daesh yang keluar dari wilayah kekuasaan mereka untuk masuk ke negara kita atau negara sasaran lainnya,” kata Erdogan.
“Sebagai pemimpin yang mengikuti perkembangan global, kami sadar akan fakta di mana kawasan Asia Pasifik berkembang dari hari ke hari. Negara-negara Asia semakin berpengaruh dalam ekonomi dan perdagangan dunia,” katanya lagi.
Widodo mengatakan hubungan Indonesia dan Turki memiliki potensi yang besar untuk membangun kerja sama.
“Kami memutuskan untuk memperkuat kerja sama keamanan anti-teror Indonesia-Turki. Unuk itulah kami berbagi informasi intelijen,” jelasnya.
Kedua presiden telah mendiskusikan berbagai cara untuk mengurangi hambatan dalam perdagangan dan membangun investasi yang menguntungkan.
“Kami sudah menjalin kerja sama di bidang penerbangan, maritim, dan energi,” kata Widodo.
Widodo juga menambahkan bahwa mereka sudah sepakat untuk bekerja sama memproduksi kapal selam dan pesawat tanpa awak, dan juga tenaga pembangkit listrik apung untuk memenuhi kebutuhan listrik Indonesia.
Menyikapi soal krisis Teluk, ia berkata “Saya berharap saluran komunikasi selalu terbuka, dan dialog yang membangun dapat membantu mengatasi masalah ini. Kedua belah pihak sudah seharusnya sepakat untuk berdiskusi untuk mengakhiri perselisihan ini,”
Kedua pemimpin juga menghadiri upacara penandatanganan termasuk Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Turki-Indonesia. Keduanya juga menghadiri konferensi G20 yang diselenggarakan di Jerman, Jumat.